Friday, January 25, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 4


Chapter 4

The Briefing and Objective

Seketika Lisa langsung memeluk Kazu. Dengan erat Ia menangis tersedu-sedu. “Sudah sa. Ini sudah berlalu lama sekali. Walaupun Ibumu sudah mati, ia akan tetap menjagamu. Karena kasih Ibu tidak akan terputus sekalipun ia tidak menemanimu sekarang. Aku yakin ia pasti sedang melihatmu jauh dari sana.” ungkap Kazu untuk menenangkan hati Lisa. “Kazu... Terima kasih telah membantuku selama ini…” jawab Lisa sambil mengusap matanya 

“Nak, aku sudah mengatakan kepadamu kalau jangan kaget apabila aku mengatakan yang sebenarnya. Sekarang aku akan memberitahumu tentang apa yang dimaksud Priestess of the Moon.” Lisa langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar apa yang Yun katakan. Seperti orang yang haus akan informasi. Ia mulai
mendengarkan apa yang Yun katakan.

“Seorang Priestess of the Moon merupakan title yang diberikan kepada orang yang dipilih oleh bulan. Seribu tahun yang lalu. Generasi pertama dari Priestess of the Moon menyegel seorang Iblis yang membawa kekacauan di muka bumi ini. Para Priestess mendirikan sebuah kerajaan sendiri walaupun mereka tidak terlibat secara langsung di kerajaan tersebut. Pada akhirnya dikenal dengan Kerajaan Nightwall dengan kastilnya Prein. Setiap generasi menjaga kastil tersebut karena di kastil tersebut merupakan tempat disegelnya sang iblis besar. Pada akhirnya kastil tersebut hancur oleh serangan Orc yang membawa High Shaman mereka secara langsung. Untuk merapal mereka agar tidak terdeteksi oleh kekuatan mendeteksi bahaya sang Priestess. Sudah 15 tahun sepertinya persiapan kebangkitan sang Iblis sudah hampir selesai. Kau, Lisa, merupakan generasi terakhir Priestess. Hanya kau yang memiliki kekuatan untuk menyegel sang iblis. Walaupun bulan belum menunjuk siapakah dirimu itu. Namun aku yakin kau pasti bisa melaksanakan tugasmu sebagai Priestess.” cerita Yun mengenai Priestess of the Moon.

“Mengapa kau tahu kalau aku bisa menjadi Priesteress of the Moon?” tanya Lisa. “Karena kau adalah generasi terakhir dari garis keturunan ini, dan aku sudah bisa melihat dari dalam dirimu kalau kau akan menjadi Priestess of the Moon.” jawab Yun dengan muka sedikit tersenyum. “Nak, kau akan kuberitahu. Priestess of the Moon beda dengan seorang priest atau priestess. Mereka diberi kekuatan oleh bulan untuk melindungi orang di sekitarnya. Tak jarang ada juga yang menyebut mereka sebagai ‘Holy Warrior of the Moon’.”

“’Holy Warrior of the Moon’? Itu bahkan lebih keren! Priestess terdengar membosankan, hahahahaha!” celetuk Kazu dengan tertawa. “Ssstt! Kazu, kau memalukanku! Bisakah kau diam di tempat seperti ini?” gerutu Lisa sambil menepuk punggu Kazu sedikit keras. “Hahahahaha, kalian anak muda akan menjadi pasangan yang cocok dalam hidup kalian.” potong Yun seraya tertawa kecil. Kedua anak tersebut langsung diam, saling memandang, dan berteriak “Tidak akan!” dengan muka memerah.

“Hahahahaha, aku hanya bercanda. Jadi, bagaimana menurutmu, Priestess of the Moon? Apakah kau sudah mengerti dengan tujuanmu?”

Lisa terdiam untuk sesaat dan menjawab “Aku hanya bingung, apabila aku orang terakhir yang bisa menjadi seorang Priestess of the Moon dan Priestess sendiri dipilih oleh bulan. Bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan itu?”.

“Karena itulah aku menyuruhmu pergi ke sini, bocah. Untuk tahap pertama aku bisa membantumu, karena dulu aku pernah menyaksikan proses seorang Priestess mendapatkan kekuatannya. Aku harap aku bisa membantu sedikit. Tapi untuk selanjutnya, kau harus mencarinya sendiri. Berkelana ke berbagai belahan negeri yang ada di dunia ini.” jawab Yun meyakini Lisa.

“Aha! Ini terdengar seperti petualangan! Kau dengar, Lisa? Ini seperti yang aku impikan sejak kecil! Petualangan! Harta karun! Monster dan masih banyak lagi!” serentak Kazu seperti orang kegirangan yang haus akan petualangan. Dengan muka tidak ada harapan, Lisa menjawab “Hei hei, Kazu! Perasaan aku deh yang akan pergi berpetualang, kenapa kamu yang sangat antusias.” “Yah karena ini impianku sejak kecil! Menjadi pemburu harta karun yang mengelilingi dunia yang luas ini! Ah masa kamu tidak ingat dengan apa yang aku ceritakan waktu kecil dulu?” ungkap Kazu dengan sangat bersemangat.

“Hmph, aku kira itu hanya bualan seorang laki laki yang tiap hari nongkrong di pasar terus.” sindir Lisa dengan nada tertawa. Seketika Kazu tidak berkutik. Speechless sepertinya.

“Baiklah, aku bersedia untuk mengikuti latihan yang akan engkau berikan kepadaku. Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanya Lisa.

“Eits, jangan terburu-buru dulu. Sebelum memulai petualangan ini aku harap kau sudah mendapatkan izin dari satu satunya bapakmu yang telah merawatmu selama ini, nak.” nasihat Yun dengan bijak. Lisa mengangguk mengerti.

“Lalu kemana kau akan membawa kami?” tanya Kazu.

“Ah, itu bukan urusanmu! Yang ingin jadi muridku Lisa, kok. Bukan kamu.” ledek Yun dengan tertawa. Kazu merasa dirinya dipermalukan selama disini. “Sa, kita pulang sekarang aja, yuk?” gerutu Kazu terhadap Lisa. Lisa hanya bisa tersenyum sembari menahan tawanya. Ia merasa bersalah juga dengan Kazu karena sudah mempermalukan dirinya dengan Yun.

“Baiklah, dengan ini aku anggap kalian semua mengerti apa yang kalian lakukan. Sekarang, kalian boleh pergi dari tenda ini. Aku harap aku tidak akan bertemu dengan kalian sampai esok hari.” ungkap Yun. Kedua anak tersebut mengangguk. Lalu keluar dari tenda tersebut. Dan segera pergi dari tempat tersebut.

“Selamat tinggal, Yun!” teriak Lisa.

Para elven kebingungan dengan perilaku Lisa. “Wah, berani sekali dia memanggil sang Arch Mage dengan namanya.” “Arch Mage, apa kau yakin mereka bisa menyelamatkan dunia ini?” tanya salah seorang elven. “Ya, aku sangat yakin. Aku sudah bisa melihatnya dari cara ia memperlakukanku. Tak beda dari para pendahulunya.” jawab Yun dengan sedikit tertawa.

“Lagipula, aku bisa melihat potensi dirinya. Dikelilingi dengan aura besar yang belum digunakan secara maksimal. Aku akan menuntun ia untuk menggunakan potensi yang terkubur di dalam dirinya. Dan sisanya aku serahkan kepada ia untuk mengembangkan kekuatannya.” jawab Yun dengan penuh keyakinan.

No comments:

Post a Comment