Tuesday, January 15, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 3


Chapter 3
Seeking the Truth of the Past
“Lisa, siapakah orang-orang itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat kepadamu? Apakah kau terluka?” tanya Kazu dengan penuh perhatian. “Tidak, Kazu. Hanya saja… Aku bingung dengan diriku sendiri, siapakah diriku sebenarnya? Apa yang terjadi 15 tahun yang lalu?” jawab Lisa dengan muka memelas.
“15 tahun yang lalu? Hmm… Ah! Aku ingat cerita dari orang-orang di bar! Katanya 15 tahun yang lalu sebuah kastil yang dikenal tidak dapat ditembus pertahanannya tiba-tiba hancur dan semua orang yang hidup di kastil itu tidak ada yang selamat. Lalu salah seorang dari mereka melihat api besar menyambar gelapnya langit. Hanya itu yang kudengar dari pintu belakang bar dekat pusat desa. Karena umurku belum cukup juga untuk masuk ke bar tersebut hahahahaha!” ujar Kazu dengan tertawa.
“Oh jadi begitu…” jawab Lisa, dengan menahan air mata yang telah ia bendung sejak berlari dari desa. Sejenak, suasanya menjadi sangat sepi. Lisa hanya bisa memandang lautan langit yang sangat gelap. Sementara Kazu berada disampingnya, menemani temannya yang kala dalam kebingungan yang amat dalam. Langit malam yang bertaburan bintang tanpa ditemani bulan sama sekali. Hening, itulah yang mereka rasakan berada di pinggir tebing yang biasa mereka gunakan untuk berbagi cerita.
“Kazu…” ucap Lisa dengan nada rendah. “Ya, ada apa, sa?”
“Apakah yang kau tahu tentang Priestess of the Moon?” tanya Lisa.
Kazu menggeleng kepalanya. Menandakan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Lisa maksut.

“Zu, sepertinya aku harus pergi ke tempat peristirahatan para manusia aneh itu.” kata Lisa. “A-apa? Apa y-yang akan kau lakukan?” tanya Kazu dengan muka penasaran. “Salah satu dari mereka mengatakan aku adalah keturunan terakhir Priestess of the Moon. Mungkin aku bisa mengetahui masa lalu ku yang sebenarnya! Dan mungkin, aku bisa menemukan ibuku dimana…!” jawab Lisa dengan penuh percaya diri.
“Hmmm, ya sudah. Kalau itu maumu, aku akan menemanimu besok.” janji Kazu kepada Lisa. “Haaaa! Terima kasih ya Kazu! Besok kita bertemu di tempat biasa pagi hari setelah matahari terbit ya!” jawab Lisa dengan girang. Setelah itu ia langsung memeluk temannya, dan secepat kilat berlari ke arah rumahnya. “A-aku dipeluk Lisa? Ha… Hahahaha…” sambil menahan mukanya yang terlihat malu. Ia akhirnya memutuskan untuk merenung sejenak di tebing tersebut. Mengingat kalau hari itu adalah kali pertamanya ia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya sendiri.
Keesokan harinya, keduanya sudah berkumpul di alun alun desa. Dan segera bergegas untuk pergi ke tempat yang mereka tuju, yaitu perkemahan para Elven. Tidak jauh juga untuk pergi ke sana, mereka hanya perlu melewati Bukit Hijau yang dikenal tidak pernah berubah warna selain Hijau. Walaupun salju melanda bukit tersebut.
Pada akhirnya sampailah mereka ke sebuah tenda besar yang berada tak jauh dari Bukit Hijau. Beberapa langkah sebelum mereka masuk ke tenda tersebut. Para elven telah menjamu mereka dan bertanya “Kau pasti Lisa?”. Lisa hanya mengangguk dan bertanya “Benar, kenapa kau tahu kedatangan kami?”. “Karena Yun, sang Arch Mage telah mengatakan kalau kalian akan datang pada hari ini.” ucap sang Elven.
Lalu mereka memasuki tenda tersebut. Di dalamnya sudah ada nenek-nenek yang menunggu kedatangan mereka. Sekali lagi Lisa ingin tertawa, namun akhirnya ia bisa menahan tawanya tersebut dikarenakan mengetahui kalo orang yang ia hadapi adalah seorang penyihir besar. Yang konon juga merupakan salah satu pahlawan yang menyelamatkan dunia.
“Aku mengetahui kau akan datang nak, kau sama sekali tak berubah dengan nenek moyangmu yang penasaran dengan segala hal…” ungkap Yun dengan nada pelan. “Kau pasti kesini ingin mengetahui kenapa kau terpilih untuk menyelamatkan dunia ini?” tanya Yun. “Iya, betul. Tapi sebelumnya, tolong beritahu aku siapakah diriku ini dan dimanakah ibuku?!” tanya Lisa dengan sedikit menaikkan suaranya.
“Hahaha, pelan sedikit nak, kau memang tak berbeda dari mereka… Tetapi, ketahuilah. Kalau kau ingin mengetahui masa lalumu, berarti kau siap untuk menerima kalau kau adalah satu satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia ini dan kau siap menerima kalu kenyataannya adalah…” tiba-tiba, ia tidak melanjutkan apa yang ia ucapkan.
“Apa? Kenyataan apa?” tanya Lisa dengan tak sabar.
“Nak, aku tahu kalau kau ingin mengetahui siapa Ibu kandungmu, tetapi… Ketauhilah… Kalau ia telah meninggal setelah meninggalkan dirimu yang masih kecil di rumah bapak tirimu…”
Sekali lagi jantung Lisa berdetak keras. Dan Lisa tertegun sesaat. Tidak percaya apa yang sang penyihir, Yun, katakan kepada dia.

No comments:

Post a Comment