Chapter 3
Seeking the Truth of the Past
“Lisa,
siapakah orang-orang itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat kepadamu?
Apakah kau terluka?” tanya Kazu dengan penuh perhatian. “Tidak, Kazu. Hanya
saja… Aku bingung dengan diriku sendiri, siapakah diriku sebenarnya? Apa yang
terjadi 15 tahun yang lalu?” jawab Lisa dengan muka memelas.
“15
tahun yang lalu? Hmm… Ah! Aku ingat cerita dari orang-orang di bar! Katanya 15
tahun yang lalu sebuah kastil yang dikenal tidak dapat ditembus pertahanannya
tiba-tiba hancur dan semua orang yang hidup di kastil itu tidak ada yang
selamat. Lalu salah seorang dari mereka melihat api besar menyambar gelapnya
langit. Hanya itu yang kudengar dari pintu belakang bar dekat pusat desa.
Karena umurku belum cukup juga untuk masuk ke bar tersebut hahahahaha!” ujar
Kazu dengan tertawa.
“Oh
jadi begitu…” jawab Lisa, dengan menahan air mata yang telah ia bendung sejak
berlari dari desa. Sejenak, suasanya menjadi sangat sepi. Lisa hanya bisa
memandang lautan langit yang sangat gelap. Sementara Kazu berada disampingnya,
menemani temannya yang kala dalam kebingungan yang amat dalam. Langit malam
yang bertaburan bintang tanpa ditemani bulan sama sekali. Hening, itulah yang
mereka rasakan berada di pinggir tebing yang biasa mereka gunakan untuk berbagi
cerita.
“Kazu…”
ucap Lisa dengan nada rendah. “Ya, ada apa, sa?”
“Apakah
yang kau tahu tentang Priestess of the Moon?” tanya Lisa.
Kazu
menggeleng kepalanya. Menandakan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Lisa
maksut.
“Zu,
sepertinya aku harus pergi ke tempat peristirahatan para manusia aneh itu.”
kata Lisa. “A-apa? Apa y-yang akan kau lakukan?” tanya Kazu dengan muka
penasaran. “Salah satu dari mereka mengatakan aku adalah keturunan terakhir
Priestess of the Moon. Mungkin aku bisa mengetahui masa lalu ku yang
sebenarnya! Dan mungkin, aku bisa menemukan ibuku dimana…!” jawab Lisa dengan
penuh percaya diri.
“Hmmm,
ya sudah. Kalau itu maumu, aku akan menemanimu besok.” janji Kazu kepada Lisa.
“Haaaa! Terima kasih ya Kazu! Besok kita bertemu di tempat biasa pagi hari
setelah matahari terbit ya!” jawab Lisa dengan girang. Setelah itu ia langsung
memeluk temannya, dan secepat kilat berlari ke arah rumahnya. “A-aku dipeluk
Lisa? Ha… Hahahaha…” sambil menahan mukanya yang terlihat malu. Ia akhirnya
memutuskan untuk merenung sejenak di tebing tersebut. Mengingat kalau hari itu
adalah kali pertamanya ia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya sendiri.
Keesokan
harinya, keduanya sudah berkumpul di alun alun desa. Dan segera bergegas untuk
pergi ke tempat yang mereka tuju, yaitu perkemahan para Elven. Tidak jauh juga
untuk pergi ke sana, mereka hanya perlu melewati Bukit Hijau yang dikenal tidak
pernah berubah warna selain Hijau. Walaupun salju melanda bukit tersebut.
Pada
akhirnya sampailah mereka ke sebuah tenda besar yang berada tak jauh dari Bukit
Hijau. Beberapa langkah sebelum mereka masuk ke tenda tersebut. Para elven
telah menjamu mereka dan bertanya “Kau pasti Lisa?”. Lisa hanya mengangguk dan
bertanya “Benar, kenapa kau tahu kedatangan kami?”. “Karena Yun, sang Arch Mage
telah mengatakan kalau kalian akan datang pada hari ini.” ucap sang Elven.
Lalu
mereka memasuki tenda tersebut. Di dalamnya sudah ada nenek-nenek yang menunggu
kedatangan mereka. Sekali lagi Lisa ingin tertawa, namun akhirnya ia bisa
menahan tawanya tersebut dikarenakan mengetahui kalo orang yang ia hadapi
adalah seorang penyihir besar. Yang konon juga merupakan salah satu pahlawan
yang menyelamatkan dunia.
“Aku
mengetahui kau akan datang nak, kau sama sekali tak berubah dengan nenek
moyangmu yang penasaran dengan segala hal…” ungkap Yun dengan nada pelan. “Kau
pasti kesini ingin mengetahui kenapa kau terpilih untuk menyelamatkan dunia
ini?” tanya Yun. “Iya, betul. Tapi sebelumnya, tolong beritahu aku siapakah diriku
ini dan dimanakah ibuku?!” tanya Lisa dengan sedikit menaikkan suaranya.
“Hahaha,
pelan sedikit nak, kau memang tak berbeda dari mereka… Tetapi, ketahuilah.
Kalau kau ingin mengetahui masa lalumu, berarti kau siap untuk menerima kalau
kau adalah satu satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia ini dan kau siap
menerima kalu kenyataannya adalah…” tiba-tiba, ia tidak melanjutkan apa yang ia
ucapkan.
“Apa?
Kenyataan apa?” tanya Lisa dengan tak sabar.
“Nak,
aku tahu kalau kau ingin mengetahui siapa Ibu kandungmu, tetapi… Ketauhilah…
Kalau ia telah meninggal setelah meninggalkan dirimu yang masih kecil di rumah
bapak tirimu…”
Sekali
lagi jantung Lisa berdetak keras. Dan Lisa tertegun sesaat. Tidak percaya apa
yang sang penyihir, Yun, katakan kepada dia.
No comments:
Post a Comment