Tuesday, January 8, 2013

The Last Priestess of the Moon - Prologue

\\** Sebelum membaca prologue, penulis memberi tahu kalau ada kesamaan nama, judul, dll. Itu semua hanya kebetulan belaka, dan betul. Penulis mendapat inspirasi judul light novel ini dari seorang Hero di DotA, tapi di jalan cerita ini TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan DotA, penulis ucapkan terimakasih :) **\\
 - PROLOGUE –
Sinar rembulan di malam hari menerangi kastil Prein, semua penghuni kastil sudah tertidur, baik raja, ratu, maupun sang pangeran dan semua penghuni kastil. Kecuali, seorang Priestess dan anaknya. Yang sedang berada di ruangan khusus untuk mereka beribadah. Anaknya, Alice I. Nightshade, yang lahir 1 tahun yang lalu, berada di pelukan ibunya, menangis meminta makan kepada sang ibu. Sang Ibu, yang selesai berdoa, segera menggendong anaknya tersebut, memberi makan dengan sebuah bubur gandum yang ia buat beberapa jam yang lalu untuk anaknya tersebut.
Kastil Prein, konon di kenal tidak bisa ditembus dan diserang oleh kekuatan pasukan manapun. Karena terkenal dengan kekuatan seorang Priestess di kastil itu. Priestess of the Moon diyakini sangat kuat dengan kekuatannya, dikarenakan untuk menjadi seorang Priestess of the Moon, dibutuhkan seorang yang sangat bersih hatinya, dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi orang disekitarnya. Priestess sendiri dipilih oleh Bulan, jadi tidak sembarang orang yang bisa menjadi seorang Priestess.
Seorang Priestess of the Moon di kastil ini, yang bernama Kaaya, mempunyai kekuatan menerawang bahaya disekitarnya, melewati bulan yang bercahaya di malam hari. Pada awalnya, ia tidak merasakan adanya marabahaya di sekitar kastil tersebut. Namun, saat ingin menyuapi anaknya, tiba-tiba ia menjatuhkan piring tersebut, melihat bulan ditutup oleh awan yang sangat, amat hitam. Sampai tidak satupun cahaya bulan menerangi bagian bumi di dalamnya. Ia melihat keluar, 1000, bukan, 100.000 pasukan Orc datang mengepung kastil tersebut, di tengah-tengah orc tersebut terdapat tandu yang sangat besar, dan saat di buka, terlihat... Seorang Shaman dari Orc, ia teriak "Mulai hari ini, Bulan akan hancur! Kebangkitan Kal'gur akan membawa petaka di dunia ini! Saatnya 'Zaman Kegelapan Dunia' dimulai!"

Priestess sangat kaget, dan ketakutan. Ia sangat bingung kenapa tidak dapat mendeteksi keberadaan para Orc? Dengan langkah bergetar, ia mulai berlari membangunkan penjaga kastil, dan segera membunyikan lonceng darurat, yang menandakan kastil dalam keadaan bahaya. Namun, sayang, saat dibunyikan, para Orc telah menembus pertahanan kastil. Dengan kekuatannya, Kaaya bisa membuat sebuah pelindung di sekitar kastil, namun karena ia sudah menggunakan banyak kekuatannya pada hari ini, jadi pelindung itu hanya bertahan sesaat, dan akhirnya hancur dihantam ratusan ribuan orc yang menyerbu kastil tersebut. Para Orc pun berhasil memasuki kastil yang tak pernah tersentuhi oleh penjajah sekalipun.
"Crek, crek, crek, crek..."
Bunyi baju zirah berat yang dipakai para Orc memenuhi kastil, 1 per 1 para penghuni kastil yang tertidur lelap dengan kaget terbangun, dan menemukan Orc sudah mengepung mereka, tanpa basa basi, pedang menanyayat tubuh mereka, tombak menusuk mereka, anak panah menembus daging mereka, darah dimana-mana. Raja, yang pada awalnya dapat mengendalikan situasi, tiba tiba menjadi sangat lemah, dikarenakan para Orc menggunakan sejenis racun di ujung pisau mereka, sehingga di tengah-tengah kerajaan sudah banyak sekali jasat manusia dan darah bertebaran. Beruntung sang Priestess dapat melarikan diri dari pembunuhan genosida tersebut, namun, tidak disangka terdapat satu pasukan Orc, mendapatkan melihat ia mencoba melarikan diri. Ditariknya anak panah, dilepaskan, tepat mengenai kaki sang priestess. Tidak peduli dengan keadaan badannya yang terkena luka serius, ia meneruskan niatnya untuk melarikan diri, sampai para Orc tidak bisa melacak kemana lagi mereka pergi.
Dengan pincang, ia merasakan kalau ia tidak akan kuat lagi melanjutkan perjalanan, sampai ia melihat kembali ke arah kastil, terdapat cahaya yang sangat terang, namun penuh dengan aura kebencian dan kekacauan. Ia dapat merasakan bahwa dunia sedang dalam bahaya, terlihat dari cara ia memandang bulan, yang sudah terang seperti biasa.
Beberapa menit terus berlalu. Ia terus berjalan, dan merasa sangat sesak untuk bernafas. Beruntung ia menemukan sebuah rumah kecil, kalau dilihat dari luar terdapat tempat untuk mengasah besi. Dapat dilihat kalau ternyata ini rumah seorang pandai besi. Tanpa pikir panjang ia meletakkan anak satu-satunya di depan pintu rumah tersebut. Sebelum ia meninggalkannya, terlebih dahulu ia berdoa, agar anaknya selalu diberi keselamatan, dan kelak akan menjadi orang yang berguna. Setelah berdoa ia langsung pergi, entah kemana, sangat jauh dari rumah tersebut, dan tidak pernah terlihat kembali.

No comments:

Post a Comment