\\** Sebelum membaca prologue,
penulis memberi tahu kalau ada kesamaan nama, judul, dll. Itu semua hanya
kebetulan belaka, dan betul. Penulis mendapat inspirasi judul light novel ini
dari seorang Hero di DotA, tapi di jalan cerita ini TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan DotA, penulis ucapkan
terimakasih :) **\\
- PROLOGUE
–
Sinar
rembulan di malam hari menerangi kastil Prein, semua penghuni kastil sudah
tertidur, baik raja, ratu, maupun sang pangeran dan semua penghuni kastil.
Kecuali, seorang Priestess dan anaknya. Yang sedang berada di ruangan khusus
untuk mereka beribadah. Anaknya, Alice I. Nightshade, yang lahir 1 tahun yang
lalu, berada di pelukan ibunya, menangis meminta makan kepada sang ibu. Sang
Ibu, yang selesai berdoa, segera menggendong anaknya tersebut, memberi makan
dengan sebuah bubur gandum yang ia buat beberapa jam yang lalu untuk anaknya
tersebut.
Kastil
Prein, konon di kenal tidak bisa ditembus dan diserang oleh kekuatan pasukan
manapun. Karena terkenal dengan kekuatan seorang Priestess di kastil itu.
Priestess of the Moon diyakini sangat kuat dengan kekuatannya, dikarenakan
untuk menjadi seorang Priestess of the Moon, dibutuhkan seorang yang sangat
bersih hatinya, dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi orang disekitarnya.
Priestess sendiri dipilih oleh Bulan, jadi tidak sembarang orang yang bisa
menjadi seorang Priestess.
Seorang
Priestess of the Moon di kastil ini, yang bernama Kaaya, mempunyai kekuatan
menerawang bahaya disekitarnya, melewati bulan yang bercahaya di malam hari.
Pada awalnya, ia tidak merasakan adanya marabahaya di sekitar kastil tersebut.
Namun, saat ingin menyuapi anaknya, tiba-tiba ia menjatuhkan piring tersebut,
melihat bulan ditutup oleh awan yang sangat, amat hitam. Sampai tidak satupun
cahaya bulan menerangi bagian bumi di dalamnya. Ia melihat keluar, 1000, bukan,
100.000 pasukan Orc datang mengepung kastil tersebut, di tengah-tengah orc
tersebut terdapat tandu yang sangat besar, dan saat di buka, terlihat...
Seorang Shaman dari Orc, ia teriak "Mulai hari ini, Bulan akan hancur!
Kebangkitan Kal'gur akan membawa petaka di dunia ini! Saatnya 'Zaman Kegelapan
Dunia' dimulai!"
Priestess
sangat kaget, dan ketakutan. Ia sangat bingung kenapa tidak dapat mendeteksi
keberadaan para Orc? Dengan langkah bergetar, ia mulai berlari membangunkan
penjaga kastil, dan segera membunyikan lonceng darurat, yang menandakan kastil
dalam keadaan bahaya. Namun, sayang, saat dibunyikan, para Orc telah menembus
pertahanan kastil. Dengan kekuatannya, Kaaya bisa membuat sebuah pelindung di
sekitar kastil, namun karena ia sudah menggunakan banyak kekuatannya pada hari
ini, jadi pelindung itu hanya bertahan sesaat, dan akhirnya hancur dihantam
ratusan ribuan orc yang menyerbu kastil tersebut. Para Orc pun berhasil
memasuki kastil yang tak pernah tersentuhi oleh penjajah sekalipun.
"Crek,
crek, crek, crek..."
Bunyi
baju zirah berat yang dipakai para Orc memenuhi kastil, 1 per 1 para penghuni
kastil yang tertidur lelap dengan kaget terbangun, dan menemukan Orc sudah
mengepung mereka, tanpa basa basi, pedang menanyayat tubuh mereka, tombak
menusuk mereka, anak panah menembus daging mereka, darah dimana-mana. Raja,
yang pada awalnya dapat mengendalikan situasi, tiba tiba menjadi sangat lemah,
dikarenakan para Orc menggunakan sejenis racun di ujung pisau mereka, sehingga
di tengah-tengah kerajaan sudah banyak sekali jasat manusia dan darah
bertebaran. Beruntung sang Priestess dapat melarikan diri dari pembunuhan
genosida tersebut, namun, tidak disangka terdapat satu pasukan Orc, mendapatkan
melihat ia mencoba melarikan diri. Ditariknya anak panah, dilepaskan, tepat
mengenai kaki sang priestess. Tidak peduli dengan keadaan badannya yang terkena
luka serius, ia meneruskan niatnya untuk melarikan diri, sampai para Orc tidak
bisa melacak kemana lagi mereka pergi.
Dengan
pincang, ia merasakan kalau ia tidak akan kuat lagi melanjutkan perjalanan,
sampai ia melihat kembali ke arah kastil, terdapat cahaya yang sangat terang,
namun penuh dengan aura kebencian dan kekacauan. Ia dapat merasakan bahwa dunia
sedang dalam bahaya, terlihat dari cara ia memandang bulan, yang sudah terang
seperti biasa.
Beberapa
menit terus berlalu. Ia terus berjalan, dan merasa sangat sesak untuk bernafas.
Beruntung ia menemukan sebuah rumah kecil, kalau dilihat dari luar terdapat
tempat untuk mengasah besi. Dapat dilihat kalau ternyata ini rumah seorang
pandai besi. Tanpa pikir panjang ia meletakkan anak satu-satunya di depan pintu
rumah tersebut. Sebelum ia meninggalkannya, terlebih dahulu ia berdoa, agar
anaknya selalu diberi keselamatan, dan kelak akan menjadi orang yang berguna.
Setelah berdoa ia langsung pergi, entah kemana, sangat jauh dari rumah
tersebut, dan tidak pernah terlihat kembali.
No comments:
Post a Comment