Chapter 5
Wyverian Sword
Kedua
anak ini telah sampai di desa. Seperti biasa, mereka sepakat untuk berkumpul di
alun alun desa terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan mereka. Lisa berpikir
sangat mudah hanya untuk memulai perjalanan. Namun ia tidak lupa dengan ayah
tiri yang telah mengurus hidupnya selama 16 tahun terakhir. Lisa memutuskan
untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara bersama Kazu demi
menyelamatkan dunia.
Sampai
di rumah. Ayahnya terlihat sedang beristirahat di kursi santai miliknya sambil
menulis di sebuah buku. Nampaknya ia sedang menulis di buku harian. Lisa tak
menyangka ayahnya gemar menulis kisah hidupnya di buku harian.
“Aku
pulang, yah.” Lisa memasuki ruang makan dan langsung menyambar ayahnya yang
tengah duduk di kursi santainya. “Kemana saja kamu seharian ini, Lis? Kenapa
kau pagi-pagi pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku? Untung saja ibu
Kazu memberitahuku kalau kau akan pergi ke Bukit Hijau. Tapi apa yang kau
lakukan disana?” tanya ayah Lisa dengan penuh penasaran. Lisa mulai menceritakan
semua yang ia alami dari kemarin.
“Jadi,
itu yang orang-orang desa bicarakan kemarin?” tanya Ayah. Lisa menganggukan
kepalanya. “Aku rasa aku tidak punya pilihan lain, apabila ayah mengikutimu
rasanya akan merepotkanmu. Jujur walaupun ayah tidak rela melepasmu karena
kamulah satu satunya anggota keluarga yang kumiliki. Tapi mendengar kamu
memiliki tugas penting yang tak dapat dihindar lagi. Ayah rasa ayah harus
merelakan kamu untuk pergi.” tutur ayahnya.
“Ayah…
terima kasih, yah! Telah merawatku dari kecil hingga sekarang… Tapi besok aku
harus pergi dari sini… Aku harap ayah mengerti dengan apa yang terjadi
sekarang…” jawab Lisa dengan nada sedikit merendah.
Sambil
tersenyum, ayahnya memeluk Lisa dan menjawab “Tidak apa-apa, nak. Ayah mengerti
suatu hari hal yang tak terduga pasti akan terjadi. Dan itulah hari ini…”
Esok
harinya, disaat fajar sudah menyambut desa tersebut. Ayah membantu Lisa
menyiapkan perlengkapannya. Mulai dari tas, baju, makanan, dan uang. Tetapi
diantara semua itu ada sesuatu spesial yang khusus diberikan Ayah kepada Lisa.
“Lisa,
tunggu! Sebelum kau pergi. Ayah mau kau membawa pedang ini…”
Ayah
lalu mengambil sesuatu dari kamarnya. Tak lama, ia keluar dengan sebuah pedang
panjang. Dengan gagang yang kuat, dan mata pedang yang bahannya terbuat dari
kulit monster berwarna merah. Ayah menghunus pedang tersebut. Lisa sedikit
kaget. Namun, ia sepertinya sudah biasa melihat ayahnya menghunus beberapa
pedang yang dibuatnya. Tetapi, yang kali ini aneh. Sebuah pedang yang tidak
biasa dibuat oleh ayahnya…
“Dulu
ada seorang pemburu monster memintaku membuat pedang dari kulit monster. Ia
sendiri yang membawakan bahan-bahan tersebut. Tak lama aku segera membuat
pedang yang ia pesan. Namun, seminggu kemudian setelah pedang ini jadi.
Ditemukan pemburu tersebut mati di Gunung Avhazel. Sehingga tidak ada yang mau
mengambil pedang ini. Aku rasa pedang ini cukup untuk menemanimu selama
perjalanan. Dan semoga semua tekhnik bela diri yang aku ajarkan kepadamu kelak
berguna juga. Hahaha ha haa!” cerita Ayahnya dengan tawa khasnya.
Lisa
lalu mencoba pedang tersebut. Menghunusnya dengan pelan-pelan. “Aneh, aku kira
pedang yang panjang ini pedang yang berat. Tapi, mengapa beratnya tak lebih
dari sebuah pedang kayu?” lalu dengan penasaran Lisa keluar dari rumah dan segera
mencari pohon. Ditariknya pedang tersebut dari sarungnya, ia arahkan ke arah
ranting pohon yang lumayan besar. Dan ia ayunkan dengan cepat. Ranting pohon
tersebut terpotong menjadi dua dengan mudahnya. Padahal untuk memotong ranting
yang besar itu dibutuhkan beberapa kali ayunan sebuah kapak untuk terbelah
menjadi dua. Puas dengan kekuatan pedang tersebut. Lisa segera masuk ke dalam
rumah. Mengatakan kepada ayahnya kalau ini adalah pedang paling aneh yang
pernah ia coba. “Aaah kamu tidak usah mengatakan yang aneh-aneh! Mungkin
sekarang Kazu sudah menunggumu di alun-alun desa.”
Lisa
lupa janjinya dengan Kazu karena keanehan pedang ini! Dengan segera ia berpamit
kepada ayahnya. Lalu segera berlari menuju pusat desa. “Hati-hati, nak. Jadilah
anak yang berguna bagi semua orang…” teriak Ayahnya. Lisa terhenti, menengok ke
belakang. Dan menjawab “Tenang yah! Semua yang kau ajarkan kepadaku tidak akan
terbuang sia sia!” lalu ia segera melanjutkan perjalanannya ke alun-alun desa. Dilihatnya
Kazu sudah menunggu sambil memakan roti. Melihat Lisa dari kejauhan. Kazu
melambaikan tangannya. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi
“Bagaimana?
Kau sudah siap?” tanya Kazu dengan semangat.
“Yah,
aku sedikit gugup. Ayahku memberikan aku pedang ini. Dia berharap pedang ini
dapat melindungi kita selama perjalanan” Lisa menyodorkan pedang yang ia bawa.
“Wow!
I-ini kan… Kulit dari seekor naga di gunung! Aaah para pemburu di desa kita
sedang gempar membicarakan naga ini!” ungkap Kazu dengan terkaget-kaget. “Dan
kalau kita berhasil membunuh naga tersebut, kita—“
“Yaaaah
terserah apa katamu. Daripada kita ngomong gak jelas. Mending kita segera jalan
ke tenda para manusia aneh itu.” potong Lisa. Kazu sedikit kesal namun ia
tersadar hari semakin siang. Jadi mereka harus segera memulai perjalanan mereka
dari desa tersebut.
“Aku
tak menyangka, hidupku berubah karena dengan masalah Priestess gak jelas ini.”
gerutu Lisa dalam hati. “Namun, kalau saja aku kabur dari mereka. Aku tidak
tahu nasib dunia ini. Karena… Ini sudah takdirku untuk menjadi seorang
Priestess.” “Hei, Lisa! Kenapa kamu bengong? Apakah semua hal ini membuatmu
galau?” tiba-tiba Kazu membuat semua pikiran Lisa buyar. “Kita sudah sampai
Bukit Hijau, tak lama lagi kita akan sampai di tenda para Elven!” ungkap Kazu.
“Aaah,
tidak kusangka perjalanan begitu cepat…” gumam Lisa dalam hati.
Namun,
langit mendadak menjadi gelap. Mereka mengira kalau sebentar lagi akan hujan.
Tapi yang mereka bayangkan berbeda jauh dari yang terjadi. Tak mungkin ada
suara kepakan sayap apabila ingin turun hujan. Tak mungkin juga suhu disekitar
mereka jadi panas. Dan tak mungkin juga terdengar suara naga dari atas langit.
Ya, benar. Seekor naga ternamg melewati mereka. Menerjang seekor rusa tak jauh
dari mereka. Mencabik dan mengais rusa tersebut dengan cakarnya yang sangat
tajam. Anehnya, Kazu dan Lisa hanya bengong melihat naga tersebut. Tidak bisa
bergerak sama sekali. Keringat dingin pun mengalir dari kepala mereka. Seketika
naga tersebut menatap kedua anak ini. Tatapan yang tajam membuat mereka seakan
menjadi santapan pagi tambahan bagi naga tersebut
“Ini
aneh! T-tak mungkin naga ini akan turun gunung ke bukit ini!” Kazu sedikit
ketakutan dengan apa yang ia lihat sekarang.
Naga
tersebut membalikkan badannya. Lalu ia lari dengan sekencang-kencangnya ke
kedua anak tersebut.
“Kazu!
Awas!” teriak Lisa sambil mendorong Kazu. “Lisa! Gunakan pedangmu! Jangan
bilang kau bawa pedang tersebut untuk gaya-gayaan aja!” teriak Kazu sambil
berlari terengah engah.
“Tidak,
bodoh! Tentu saja aku bisa memakai pedang ini! Namun aku tidak pernah melawan
seekor naga yang buas!” jawab Lisa. “Aaaarrrghh!!!” tiba-tiba sebuah teriakan
keras datang dari arah Kazu.
Kaki
Kazu tersandung. Sialnya ia tidak melihat sebuah batu besar berada di depannya.
Naga tersebut mengambil ancang-ancang untuk menerkamnya. Dengan pelan naga
tersebut membuka mulutnya yang lebar. “LISA! AYUNKAN PEDANGMU SEKARANG!!”
teriakan Kazu membuat Lisa segera bergerak cepat. Ia ayunkan pedang ke ekor
naga tersebut. “Lepaskan temanku sekarang!!” teriak Lisa sambil mengayunkan
pedangnya. Pedang tersebut berhasil menembus ekor sang naga. Tetapi, sepertinya
itu tidak membuatnya kesakitan.
Naga
tersebut menghadap kebelakang. Melepas Kazu yang sudah ketakutan setengah mati.
Mengeluarkan teriakan yang sangat menggelegar. Dan seketika berkobar api di
matanya. Menandakan kalau naga ini mungkin sudah marah karena tidak dapat
menyantap sarapan paginya.