Friday, February 8, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 5


Chapter 5
Wyverian Sword
Kedua anak ini telah sampai di desa. Seperti biasa, mereka sepakat untuk berkumpul di alun alun desa terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan mereka. Lisa berpikir sangat mudah hanya untuk memulai perjalanan. Namun ia tidak lupa dengan ayah tiri yang telah mengurus hidupnya selama 16 tahun terakhir. Lisa memutuskan untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara bersama Kazu demi menyelamatkan dunia.
Sampai di rumah. Ayahnya terlihat sedang beristirahat di kursi santai miliknya sambil menulis di sebuah buku. Nampaknya ia sedang menulis di buku harian. Lisa tak menyangka ayahnya gemar menulis kisah hidupnya di buku harian.
“Aku pulang, yah.” Lisa memasuki ruang makan dan langsung menyambar ayahnya yang tengah duduk di kursi santainya. “Kemana saja kamu seharian ini, Lis? Kenapa kau pagi-pagi pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku? Untung saja ibu Kazu memberitahuku kalau kau akan pergi ke Bukit Hijau. Tapi apa yang kau lakukan disana?” tanya ayah Lisa dengan penuh penasaran. Lisa mulai menceritakan semua yang ia alami dari kemarin.
“Jadi, itu yang orang-orang desa bicarakan kemarin?” tanya Ayah. Lisa menganggukan kepalanya. “Aku rasa aku tidak punya pilihan lain, apabila ayah mengikutimu rasanya akan merepotkanmu. Jujur walaupun ayah tidak rela melepasmu karena kamulah satu satunya anggota keluarga yang kumiliki. Tapi mendengar kamu memiliki tugas penting yang tak dapat dihindar lagi. Ayah rasa ayah harus merelakan kamu untuk pergi.” tutur ayahnya.
“Ayah… terima kasih, yah! Telah merawatku dari kecil hingga sekarang… Tapi besok aku harus pergi dari sini… Aku harap ayah mengerti dengan apa yang terjadi sekarang…” jawab Lisa dengan nada sedikit merendah.
Sambil tersenyum, ayahnya memeluk Lisa dan menjawab “Tidak apa-apa, nak. Ayah mengerti suatu hari hal yang tak terduga pasti akan terjadi. Dan itulah hari ini…”
Esok harinya, disaat fajar sudah menyambut desa tersebut. Ayah membantu Lisa menyiapkan perlengkapannya. Mulai dari tas, baju, makanan, dan uang. Tetapi diantara semua itu ada sesuatu spesial yang khusus diberikan Ayah kepada Lisa.
“Lisa, tunggu! Sebelum kau pergi. Ayah mau kau membawa pedang ini…”
Ayah lalu mengambil sesuatu dari kamarnya. Tak lama, ia keluar dengan sebuah pedang panjang. Dengan gagang yang kuat, dan mata pedang yang bahannya terbuat dari kulit monster berwarna merah. Ayah menghunus pedang tersebut. Lisa sedikit kaget. Namun, ia sepertinya sudah biasa melihat ayahnya menghunus beberapa pedang yang dibuatnya. Tetapi, yang kali ini aneh. Sebuah pedang yang tidak biasa dibuat oleh ayahnya…
“Dulu ada seorang pemburu monster memintaku membuat pedang dari kulit monster. Ia sendiri yang membawakan bahan-bahan tersebut. Tak lama aku segera membuat pedang yang ia pesan. Namun, seminggu kemudian setelah pedang ini jadi. Ditemukan pemburu tersebut mati di Gunung Avhazel. Sehingga tidak ada yang mau mengambil pedang ini. Aku rasa pedang ini cukup untuk menemanimu selama perjalanan. Dan semoga semua tekhnik bela diri yang aku ajarkan kepadamu kelak berguna juga. Hahaha ha haa!” cerita Ayahnya dengan tawa khasnya.
Lisa lalu mencoba pedang tersebut. Menghunusnya dengan pelan-pelan. “Aneh, aku kira pedang yang panjang ini pedang yang berat. Tapi, mengapa beratnya tak lebih dari sebuah pedang kayu?” lalu dengan penasaran Lisa keluar dari rumah dan segera mencari pohon. Ditariknya pedang tersebut dari sarungnya, ia arahkan ke arah ranting pohon yang lumayan besar. Dan ia ayunkan dengan cepat. Ranting pohon tersebut terpotong menjadi dua dengan mudahnya. Padahal untuk memotong ranting yang besar itu dibutuhkan beberapa kali ayunan sebuah kapak untuk terbelah menjadi dua. Puas dengan kekuatan pedang tersebut. Lisa segera masuk ke dalam rumah. Mengatakan kepada ayahnya kalau ini adalah pedang paling aneh yang pernah ia coba. “Aaah kamu tidak usah mengatakan yang aneh-aneh! Mungkin sekarang Kazu sudah menunggumu di alun-alun desa.”
Lisa lupa janjinya dengan Kazu karena keanehan pedang ini! Dengan segera ia berpamit kepada ayahnya. Lalu segera berlari menuju pusat desa. “Hati-hati, nak. Jadilah anak yang berguna bagi semua orang…” teriak Ayahnya. Lisa terhenti, menengok ke belakang. Dan menjawab “Tenang yah! Semua yang kau ajarkan kepadaku tidak akan terbuang sia sia!” lalu ia segera melanjutkan perjalanannya ke alun-alun desa. Dilihatnya Kazu sudah menunggu sambil memakan roti. Melihat Lisa dari kejauhan. Kazu melambaikan tangannya. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi
“Bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Kazu dengan semangat.
“Yah, aku sedikit gugup. Ayahku memberikan aku pedang ini. Dia berharap pedang ini dapat melindungi kita selama perjalanan” Lisa menyodorkan pedang yang ia bawa.
“Wow! I-ini kan… Kulit dari seekor naga di gunung! Aaah para pemburu di desa kita sedang gempar membicarakan naga ini!” ungkap Kazu dengan terkaget-kaget. “Dan kalau kita berhasil membunuh naga tersebut, kita—“
“Yaaaah terserah apa katamu. Daripada kita ngomong gak jelas. Mending kita segera jalan ke tenda para manusia aneh itu.” potong Lisa. Kazu sedikit kesal namun ia tersadar hari semakin siang. Jadi mereka harus segera memulai perjalanan mereka dari desa tersebut.
“Aku tak menyangka, hidupku berubah karena dengan masalah Priestess gak jelas ini.” gerutu Lisa dalam hati. “Namun, kalau saja aku kabur dari mereka. Aku tidak tahu nasib dunia ini. Karena… Ini sudah takdirku untuk menjadi seorang Priestess.” “Hei, Lisa! Kenapa kamu bengong? Apakah semua hal ini membuatmu galau?” tiba-tiba Kazu membuat semua pikiran Lisa buyar. “Kita sudah sampai Bukit Hijau, tak lama lagi kita akan sampai di tenda para Elven!” ungkap Kazu.
“Aaah, tidak kusangka perjalanan begitu cepat…” gumam Lisa dalam hati.
Namun, langit mendadak menjadi gelap. Mereka mengira kalau sebentar lagi akan hujan. Tapi yang mereka bayangkan berbeda jauh dari yang terjadi. Tak mungkin ada suara kepakan sayap apabila ingin turun hujan. Tak mungkin juga suhu disekitar mereka jadi panas. Dan tak mungkin juga terdengar suara naga dari atas langit. Ya, benar. Seekor naga ternamg melewati mereka. Menerjang seekor rusa tak jauh dari mereka. Mencabik dan mengais rusa tersebut dengan cakarnya yang sangat tajam. Anehnya, Kazu dan Lisa hanya bengong melihat naga tersebut. Tidak bisa bergerak sama sekali. Keringat dingin pun mengalir dari kepala mereka. Seketika naga tersebut menatap kedua anak ini. Tatapan yang tajam membuat mereka seakan menjadi santapan pagi tambahan bagi naga tersebut
“Ini aneh! T-tak mungkin naga ini akan turun gunung ke bukit ini!” Kazu sedikit ketakutan dengan apa yang ia lihat sekarang.
Naga tersebut membalikkan badannya. Lalu ia lari dengan sekencang-kencangnya ke kedua anak tersebut.
“Kazu! Awas!” teriak Lisa sambil mendorong Kazu. “Lisa! Gunakan pedangmu! Jangan bilang kau bawa pedang tersebut untuk gaya-gayaan aja!” teriak Kazu sambil berlari terengah engah.
“Tidak, bodoh! Tentu saja aku bisa memakai pedang ini! Namun aku tidak pernah melawan seekor naga yang buas!” jawab Lisa. “Aaaarrrghh!!!” tiba-tiba sebuah teriakan keras datang dari arah Kazu.
Kaki Kazu tersandung. Sialnya ia tidak melihat sebuah batu besar berada di depannya. Naga tersebut mengambil ancang-ancang untuk menerkamnya. Dengan pelan naga tersebut membuka mulutnya yang lebar. “LISA! AYUNKAN PEDANGMU SEKARANG!!” teriakan Kazu membuat Lisa segera bergerak cepat. Ia ayunkan pedang ke ekor naga tersebut. “Lepaskan temanku sekarang!!” teriak Lisa sambil mengayunkan pedangnya. Pedang tersebut berhasil menembus ekor sang naga. Tetapi, sepertinya itu tidak membuatnya kesakitan.
Naga tersebut menghadap kebelakang. Melepas Kazu yang sudah ketakutan setengah mati. Mengeluarkan teriakan yang sangat menggelegar. Dan seketika berkobar api di matanya. Menandakan kalau naga ini mungkin sudah marah karena tidak dapat menyantap sarapan paginya.

No comments:

Post a Comment