Wednesday, March 6, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 6


Chapter 6


Let the training, begin!



“Lisaa!!” teriak Kazu. Lalu ia mengambil sebuah batu dan melemparnya ke naga tersebut. “Kalau kau mencari lawan yang sepadan lawanlah aku! Jangan sakiti dia!” lalu naga tersebut berbalik arah dan segera mengincar Kazu.

“Cukuuupp!!” tiba-tiba pedang yang Lisa genggam seketika langsung bercahaya terang. Dengan cepat Lisa lompat dan segera menebas sayap naga tersebut. Sayap naga tersebut putus! Naga tersebut pun jatuh ke tanah. Namun, Lisa tidak segera menghabisi nyawa naga tersebut. Dia memilih untuk mengangkat Kazu dan segera pergi ke tenda para Elven. Setidaknya, mereka terlepas dari bahaya untuk saat ini.

Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di tenda tersebut. “Astaga! Kenapa kalian sangat berantakan?” tanya salah satu seorang Elven. “Ditengah perjalanan kami kesini, seekor naga datang dan tak sengaja kami harus melawannya. Untung aku dan Kazu hanya mendapatkan luka gores saja.” jelas Lisa. Tak lama kemudian

Kazu tiba-tiba pingsan. Terlihat segores luka dengan darah segar menetes dari tangannya. “Tidak! Ini bukan luka biasa! Apakah naga yang kamu temui tadi adalah naga Intofar?” tanya sang Elven. “Errr… Aku tidak tahu pasti, namun naga tersebut berwarna merah di bagian kepala dan hijau di bagian badannya.” jelas Lisa. “Benar! Walau dengan cengkraman pun racun dari naga tersebut benar-benar mematikan! Kita harus membawa dia sekarang ke tabib agar bisa sembuh dari racun tersebut!” tak lama Kazu segera dilarikan oleh para Elven yang lain ke sebuah tenda kecil di dekatnya.

“Kazu… Maafkan aku… Andaikan aku bisa lebih cepat berpikir dan bertindak…” Lisa menyalahi dirinya sendiri dalam hati. Namun, tak lama kemudian sebuah tangan menepuk pundaknya. “Anak itu benar-benar merepotkan.” tiba-tiba Yun sudah dibelakang Lisa. “Mengapa kau tetap nekat untuk membawa anak manja itu?” tanya Yun.

“Ehehehe, mau gimana lagi dia sudah semangat duluan mendengar aku mau pergi. Lagipula, ia temanku dari kecil. Tak mungkin aku akan berpisah darinya. Jadi dia memutuskan untuk mengikutiku…” jelas Lisa.

“Aaah, jadi dia suka padamu…” jawab Yun dengan ekspresi mendatar. “Eng-engga! G-ga mungkin! Aneh-aneh aja…” tiba-tiba muka Lisa memerah sambil memandang jauh, membuang mukanya yang malu itu.

“Yasudah lah, tak usah dipikirkan. Sekarang ikut aku, aku akan memberitahumu tentang latihan yang harus kita laksanakan.” tiba-tiba Yun segera membalikkan badannya dan segera balik ke tendanya. Lisa segera mengikutinya.

“Jadi, saat melawan naga tadi. Apakah kau tahu kalau pedangmu tiba-tiba bersinar terang?” tanya Yun. “Y-ya! M-mengapa kau tahu?” Lisa kaget karena Yun tahu tentang hal yang terjadi tadi. “Kan sudah ku bilang, kalau aku bakal tahu hal yang terjadi sama kamu. Sebenarnya aku mau mengirim beberapa pasukan untuk membantu kalian. Tapi kalau dilihat juga kau mempunyai cukup nyali dan kekuatan untuk melawan naga tersebut. Jadi kubiarkan saja.” jawab Yun.

“Hmph, yasudah. Terus, apa hubungan pedang yang bersinar tersebut?”. “Aaaah, masa kamu lupa? Kekuatan Priestess akan keluar kalau kau ingin melindungi orang di sekitarmu! Apa yang kau pikirkan saat kau ingin menyelamatkan bocah ingusan itu?” tanya Yun dengan muka serius.

“A… Aku mau Kazu tetap hidup…” jawab Lisa.

“Tuh, kan. Kamu juga suka dia.” jawab Yun. “B-bukan maksutnya aku suka dia! T-tapi karena memang dia dalam bahaya, j-jadi.. –“ “Yaudah yaudah! Gak usah dipikirkan lagi. Sekarang balik ke topik. Berarti dengan keluarnya sinar tersebut karena kamu ingin melindungi Kazu. Kesimpulannya adalah?” tanya Yun.

“Artinya, aku sudah menggunakan sebagian kekuatanku untuk melindungi Kazu?” tanya Lisa. “Tepat sekali! Sepertinya kamu sudah menemukan 5% dari kekuatanmu. Sekarang disini saatnya kau melatih kekuatanmu, mungkin sampai 20% atau 1/5 dari kekuatanmu.” jawab Yun.

“Tapi, tunggu! Kenapa hanya sampai 20%?”

“Yah karena aku hanya bisa sampai situ saja! Dan kamu harus mulai pergi ke berbagai macam tempat untuk mencari kekuatanmu. Jadi disini aku hanya memberikan dasar dari kekuatanmu. Sisanya kau yang cari sendiri.” jelas Yun.

“Tapi bagaimana kalau aku tidak mendapatkan semua kekuatanku?” tanya Lisa sedikit pesimis.

“Aku percaya kepadamu kalau kau bisa mendapatkannya…” bisik Yun kepada Lisa.

“T-tapi kalau kau percaya kepadaku kalau aku bisa melakukannya, nanti—“

“Nak, kau ini banyak tanya. Jelas untuk mendapatkan kekuatan ini kau juga tidak bisa belajar teori saja untuk melakukan prakteknya. Jadi kau harus mencari pengalaman juga untuk mendapatkan kekuatanmu.” jelas Yun.

“Baiklah… (Padahal aku gak ngerti sama sekali dengan apa yang ia bicarakan…)” omong ia di dalam hatinya.

“Apa? Kau masih tidak mengerti?” tanya Yun. Sepertinya ia baru saja membaca pikiran Lisa.

“Aaah! Tidak-tidak! Aku hanya bercanda! Tentu saja aku mengerti!” jawab Lisa. “Baiklah, kau sebaiknya istirahat dulu. Tenda disebelah sana sudah disiapkan untukmu dan Kazu. Tapi sepertinya Kazu malam ini akan dirawat di tenda si tabib. Latihan akan kita mulai besok pagi. Usahakan kamu bisa istirahat dengan cukup.” jelas Yun.

“Err, aku masih engga tau tendanya yang mana yah…” tanya Lisa, bingung.

“Baiklah, Geo! Antar dia ke tenda tersebut.” perintah Yun

“B-baik, Arch Mage!” jawab seseorang dari luar tenda. Begitu ia masuk, seorang bocah kecil, kira-kira berumur 8 tahun masuk ke dalam tenda. “Ayo! Ikut aku!” ajak sang bocah.

“B-baiklah…” lalu Lisa segera mengikuti anak tersebut.

Selang 3 menit kemudian…

“Baiklah ini tempat istirahatmu! Aku harap kau bisa beristirahat disini!” sahut anak tersebut dengan riang.

“Hmm, baiklah. Terima kas… Err, tadi namamu siapa, ya?” tanya Lisa. “Geo! Geo Alsteir!” jawab anak tersebut dengan ceria. “Oke, terima kasih ya, Geo!” lalu anak tersebut lari ke tenda yang lain. Mungkin ia juga ingin beristirahat.

Lisa segera menjatuhkan badannya ke ranjang. Dan segera menutup matanya.

Sunday, February 10, 2013

February Collection Quick Review

Oke, setelah udah lama engga ngasih review figur dan beberapa mokit gue. Mulai dari bulan ini gue akan ngepost beberapa quick review tentang beberapa figure gue.

Enjoy ^-^


Gundam Section

HGUC 1/144 RX-93 Nu Gundam
MG 1/100 Astray Blue Frame 2nd
NG 1/100 GN-001 Exia




ACTION FIGURES SECTION

Revoltech Yamaguchi Hunter Blademaster Rathalos

Figma Black Rock Shooter 2035

Untuk bulan ini dan sebelumnya kolpri baru gue baru si Armor Rathalos sama Nu Gundam ehehehe


Okee sekian untuk bulan ini, semoga minggu depan bisa nambah ya koleksi gue heheheheh

Friday, February 8, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 5


Chapter 5
Wyverian Sword
Kedua anak ini telah sampai di desa. Seperti biasa, mereka sepakat untuk berkumpul di alun alun desa terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan mereka. Lisa berpikir sangat mudah hanya untuk memulai perjalanan. Namun ia tidak lupa dengan ayah tiri yang telah mengurus hidupnya selama 16 tahun terakhir. Lisa memutuskan untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara bersama Kazu demi menyelamatkan dunia.
Sampai di rumah. Ayahnya terlihat sedang beristirahat di kursi santai miliknya sambil menulis di sebuah buku. Nampaknya ia sedang menulis di buku harian. Lisa tak menyangka ayahnya gemar menulis kisah hidupnya di buku harian.
“Aku pulang, yah.” Lisa memasuki ruang makan dan langsung menyambar ayahnya yang tengah duduk di kursi santainya. “Kemana saja kamu seharian ini, Lis? Kenapa kau pagi-pagi pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku? Untung saja ibu Kazu memberitahuku kalau kau akan pergi ke Bukit Hijau. Tapi apa yang kau lakukan disana?” tanya ayah Lisa dengan penuh penasaran. Lisa mulai menceritakan semua yang ia alami dari kemarin.
“Jadi, itu yang orang-orang desa bicarakan kemarin?” tanya Ayah. Lisa menganggukan kepalanya. “Aku rasa aku tidak punya pilihan lain, apabila ayah mengikutimu rasanya akan merepotkanmu. Jujur walaupun ayah tidak rela melepasmu karena kamulah satu satunya anggota keluarga yang kumiliki. Tapi mendengar kamu memiliki tugas penting yang tak dapat dihindar lagi. Ayah rasa ayah harus merelakan kamu untuk pergi.” tutur ayahnya.
“Ayah… terima kasih, yah! Telah merawatku dari kecil hingga sekarang… Tapi besok aku harus pergi dari sini… Aku harap ayah mengerti dengan apa yang terjadi sekarang…” jawab Lisa dengan nada sedikit merendah.
Sambil tersenyum, ayahnya memeluk Lisa dan menjawab “Tidak apa-apa, nak. Ayah mengerti suatu hari hal yang tak terduga pasti akan terjadi. Dan itulah hari ini…”
Esok harinya, disaat fajar sudah menyambut desa tersebut. Ayah membantu Lisa menyiapkan perlengkapannya. Mulai dari tas, baju, makanan, dan uang. Tetapi diantara semua itu ada sesuatu spesial yang khusus diberikan Ayah kepada Lisa.
“Lisa, tunggu! Sebelum kau pergi. Ayah mau kau membawa pedang ini…”
Ayah lalu mengambil sesuatu dari kamarnya. Tak lama, ia keluar dengan sebuah pedang panjang. Dengan gagang yang kuat, dan mata pedang yang bahannya terbuat dari kulit monster berwarna merah. Ayah menghunus pedang tersebut. Lisa sedikit kaget. Namun, ia sepertinya sudah biasa melihat ayahnya menghunus beberapa pedang yang dibuatnya. Tetapi, yang kali ini aneh. Sebuah pedang yang tidak biasa dibuat oleh ayahnya…
“Dulu ada seorang pemburu monster memintaku membuat pedang dari kulit monster. Ia sendiri yang membawakan bahan-bahan tersebut. Tak lama aku segera membuat pedang yang ia pesan. Namun, seminggu kemudian setelah pedang ini jadi. Ditemukan pemburu tersebut mati di Gunung Avhazel. Sehingga tidak ada yang mau mengambil pedang ini. Aku rasa pedang ini cukup untuk menemanimu selama perjalanan. Dan semoga semua tekhnik bela diri yang aku ajarkan kepadamu kelak berguna juga. Hahaha ha haa!” cerita Ayahnya dengan tawa khasnya.
Lisa lalu mencoba pedang tersebut. Menghunusnya dengan pelan-pelan. “Aneh, aku kira pedang yang panjang ini pedang yang berat. Tapi, mengapa beratnya tak lebih dari sebuah pedang kayu?” lalu dengan penasaran Lisa keluar dari rumah dan segera mencari pohon. Ditariknya pedang tersebut dari sarungnya, ia arahkan ke arah ranting pohon yang lumayan besar. Dan ia ayunkan dengan cepat. Ranting pohon tersebut terpotong menjadi dua dengan mudahnya. Padahal untuk memotong ranting yang besar itu dibutuhkan beberapa kali ayunan sebuah kapak untuk terbelah menjadi dua. Puas dengan kekuatan pedang tersebut. Lisa segera masuk ke dalam rumah. Mengatakan kepada ayahnya kalau ini adalah pedang paling aneh yang pernah ia coba. “Aaah kamu tidak usah mengatakan yang aneh-aneh! Mungkin sekarang Kazu sudah menunggumu di alun-alun desa.”
Lisa lupa janjinya dengan Kazu karena keanehan pedang ini! Dengan segera ia berpamit kepada ayahnya. Lalu segera berlari menuju pusat desa. “Hati-hati, nak. Jadilah anak yang berguna bagi semua orang…” teriak Ayahnya. Lisa terhenti, menengok ke belakang. Dan menjawab “Tenang yah! Semua yang kau ajarkan kepadaku tidak akan terbuang sia sia!” lalu ia segera melanjutkan perjalanannya ke alun-alun desa. Dilihatnya Kazu sudah menunggu sambil memakan roti. Melihat Lisa dari kejauhan. Kazu melambaikan tangannya. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi
“Bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Kazu dengan semangat.
“Yah, aku sedikit gugup. Ayahku memberikan aku pedang ini. Dia berharap pedang ini dapat melindungi kita selama perjalanan” Lisa menyodorkan pedang yang ia bawa.
“Wow! I-ini kan… Kulit dari seekor naga di gunung! Aaah para pemburu di desa kita sedang gempar membicarakan naga ini!” ungkap Kazu dengan terkaget-kaget. “Dan kalau kita berhasil membunuh naga tersebut, kita—“
“Yaaaah terserah apa katamu. Daripada kita ngomong gak jelas. Mending kita segera jalan ke tenda para manusia aneh itu.” potong Lisa. Kazu sedikit kesal namun ia tersadar hari semakin siang. Jadi mereka harus segera memulai perjalanan mereka dari desa tersebut.
“Aku tak menyangka, hidupku berubah karena dengan masalah Priestess gak jelas ini.” gerutu Lisa dalam hati. “Namun, kalau saja aku kabur dari mereka. Aku tidak tahu nasib dunia ini. Karena… Ini sudah takdirku untuk menjadi seorang Priestess.” “Hei, Lisa! Kenapa kamu bengong? Apakah semua hal ini membuatmu galau?” tiba-tiba Kazu membuat semua pikiran Lisa buyar. “Kita sudah sampai Bukit Hijau, tak lama lagi kita akan sampai di tenda para Elven!” ungkap Kazu.
“Aaah, tidak kusangka perjalanan begitu cepat…” gumam Lisa dalam hati.
Namun, langit mendadak menjadi gelap. Mereka mengira kalau sebentar lagi akan hujan. Tapi yang mereka bayangkan berbeda jauh dari yang terjadi. Tak mungkin ada suara kepakan sayap apabila ingin turun hujan. Tak mungkin juga suhu disekitar mereka jadi panas. Dan tak mungkin juga terdengar suara naga dari atas langit. Ya, benar. Seekor naga ternamg melewati mereka. Menerjang seekor rusa tak jauh dari mereka. Mencabik dan mengais rusa tersebut dengan cakarnya yang sangat tajam. Anehnya, Kazu dan Lisa hanya bengong melihat naga tersebut. Tidak bisa bergerak sama sekali. Keringat dingin pun mengalir dari kepala mereka. Seketika naga tersebut menatap kedua anak ini. Tatapan yang tajam membuat mereka seakan menjadi santapan pagi tambahan bagi naga tersebut
“Ini aneh! T-tak mungkin naga ini akan turun gunung ke bukit ini!” Kazu sedikit ketakutan dengan apa yang ia lihat sekarang.
Naga tersebut membalikkan badannya. Lalu ia lari dengan sekencang-kencangnya ke kedua anak tersebut.
“Kazu! Awas!” teriak Lisa sambil mendorong Kazu. “Lisa! Gunakan pedangmu! Jangan bilang kau bawa pedang tersebut untuk gaya-gayaan aja!” teriak Kazu sambil berlari terengah engah.
“Tidak, bodoh! Tentu saja aku bisa memakai pedang ini! Namun aku tidak pernah melawan seekor naga yang buas!” jawab Lisa. “Aaaarrrghh!!!” tiba-tiba sebuah teriakan keras datang dari arah Kazu.
Kaki Kazu tersandung. Sialnya ia tidak melihat sebuah batu besar berada di depannya. Naga tersebut mengambil ancang-ancang untuk menerkamnya. Dengan pelan naga tersebut membuka mulutnya yang lebar. “LISA! AYUNKAN PEDANGMU SEKARANG!!” teriakan Kazu membuat Lisa segera bergerak cepat. Ia ayunkan pedang ke ekor naga tersebut. “Lepaskan temanku sekarang!!” teriak Lisa sambil mengayunkan pedangnya. Pedang tersebut berhasil menembus ekor sang naga. Tetapi, sepertinya itu tidak membuatnya kesakitan.
Naga tersebut menghadap kebelakang. Melepas Kazu yang sudah ketakutan setengah mati. Mengeluarkan teriakan yang sangat menggelegar. Dan seketika berkobar api di matanya. Menandakan kalau naga ini mungkin sudah marah karena tidak dapat menyantap sarapan paginya.

Friday, January 25, 2013

A New Mission!

Sudah lama sekali saya tidak post apa-apa disini selain proyek light novel saya yang akan berhenti di chapter 5 (karena sisanya akan gue kerjakan diam diam dan mau gue kirim ke penerbit :), doain yah bisa keterima di penerbit! :D)

Well, jadi gue buat gebrakan baru di tahun 2013 ini. Daaann... akhirnya gue sekarang punya 2 cita-cita. Yang pertama adalah menjadi businessman, yang kedua menjadi seorang novelis. Yup, novelis. Entah akhir-akhir ini gue lagi demen banget bikin cerita "light novel" alias novel ringan. Sebenernya gue udah punya hobi "menghayal" macam kayak gini, cuman kata temen gue "Menghayal itu gampang han, hanya menuangkannya kedalam kata-kata itu yang susah" dan dia bener banget 100%, menulis gak segampang gue menghayal. Maka karena itu gue berharap dari temen-temen gue buat ngebantu gue koreksi dan kritik karya tulis yang gue tulis akhir-akhir ini :D

Jadi selama liburan ini gue sih cuman, yaa biasa, dota, ngerakit gundam, and any shit that will make me happy, specially fap. oh ok, damn. no.

entah kenapa untuk kali ini gue udh males, sumpah, nulis entry baru. mungkin karena udah kelebihan gue tuangkan ke dunia imajinasi (baca: project light novel gue)













yaudah lah gimanalagi udh males nulis HAHAHAHA

bye =="

The Last Priestess of the Moon - Chapter 4


Chapter 4

The Briefing and Objective

Seketika Lisa langsung memeluk Kazu. Dengan erat Ia menangis tersedu-sedu. “Sudah sa. Ini sudah berlalu lama sekali. Walaupun Ibumu sudah mati, ia akan tetap menjagamu. Karena kasih Ibu tidak akan terputus sekalipun ia tidak menemanimu sekarang. Aku yakin ia pasti sedang melihatmu jauh dari sana.” ungkap Kazu untuk menenangkan hati Lisa. “Kazu... Terima kasih telah membantuku selama ini…” jawab Lisa sambil mengusap matanya 

“Nak, aku sudah mengatakan kepadamu kalau jangan kaget apabila aku mengatakan yang sebenarnya. Sekarang aku akan memberitahumu tentang apa yang dimaksud Priestess of the Moon.” Lisa langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar apa yang Yun katakan. Seperti orang yang haus akan informasi. Ia mulai
mendengarkan apa yang Yun katakan.

“Seorang Priestess of the Moon merupakan title yang diberikan kepada orang yang dipilih oleh bulan. Seribu tahun yang lalu. Generasi pertama dari Priestess of the Moon menyegel seorang Iblis yang membawa kekacauan di muka bumi ini. Para Priestess mendirikan sebuah kerajaan sendiri walaupun mereka tidak terlibat secara langsung di kerajaan tersebut. Pada akhirnya dikenal dengan Kerajaan Nightwall dengan kastilnya Prein. Setiap generasi menjaga kastil tersebut karena di kastil tersebut merupakan tempat disegelnya sang iblis besar. Pada akhirnya kastil tersebut hancur oleh serangan Orc yang membawa High Shaman mereka secara langsung. Untuk merapal mereka agar tidak terdeteksi oleh kekuatan mendeteksi bahaya sang Priestess. Sudah 15 tahun sepertinya persiapan kebangkitan sang Iblis sudah hampir selesai. Kau, Lisa, merupakan generasi terakhir Priestess. Hanya kau yang memiliki kekuatan untuk menyegel sang iblis. Walaupun bulan belum menunjuk siapakah dirimu itu. Namun aku yakin kau pasti bisa melaksanakan tugasmu sebagai Priestess.” cerita Yun mengenai Priestess of the Moon.

“Mengapa kau tahu kalau aku bisa menjadi Priesteress of the Moon?” tanya Lisa. “Karena kau adalah generasi terakhir dari garis keturunan ini, dan aku sudah bisa melihat dari dalam dirimu kalau kau akan menjadi Priestess of the Moon.” jawab Yun dengan muka sedikit tersenyum. “Nak, kau akan kuberitahu. Priestess of the Moon beda dengan seorang priest atau priestess. Mereka diberi kekuatan oleh bulan untuk melindungi orang di sekitarnya. Tak jarang ada juga yang menyebut mereka sebagai ‘Holy Warrior of the Moon’.”

“’Holy Warrior of the Moon’? Itu bahkan lebih keren! Priestess terdengar membosankan, hahahahaha!” celetuk Kazu dengan tertawa. “Ssstt! Kazu, kau memalukanku! Bisakah kau diam di tempat seperti ini?” gerutu Lisa sambil menepuk punggu Kazu sedikit keras. “Hahahahaha, kalian anak muda akan menjadi pasangan yang cocok dalam hidup kalian.” potong Yun seraya tertawa kecil. Kedua anak tersebut langsung diam, saling memandang, dan berteriak “Tidak akan!” dengan muka memerah.

“Hahahahaha, aku hanya bercanda. Jadi, bagaimana menurutmu, Priestess of the Moon? Apakah kau sudah mengerti dengan tujuanmu?”

Lisa terdiam untuk sesaat dan menjawab “Aku hanya bingung, apabila aku orang terakhir yang bisa menjadi seorang Priestess of the Moon dan Priestess sendiri dipilih oleh bulan. Bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan itu?”.

“Karena itulah aku menyuruhmu pergi ke sini, bocah. Untuk tahap pertama aku bisa membantumu, karena dulu aku pernah menyaksikan proses seorang Priestess mendapatkan kekuatannya. Aku harap aku bisa membantu sedikit. Tapi untuk selanjutnya, kau harus mencarinya sendiri. Berkelana ke berbagai belahan negeri yang ada di dunia ini.” jawab Yun meyakini Lisa.

“Aha! Ini terdengar seperti petualangan! Kau dengar, Lisa? Ini seperti yang aku impikan sejak kecil! Petualangan! Harta karun! Monster dan masih banyak lagi!” serentak Kazu seperti orang kegirangan yang haus akan petualangan. Dengan muka tidak ada harapan, Lisa menjawab “Hei hei, Kazu! Perasaan aku deh yang akan pergi berpetualang, kenapa kamu yang sangat antusias.” “Yah karena ini impianku sejak kecil! Menjadi pemburu harta karun yang mengelilingi dunia yang luas ini! Ah masa kamu tidak ingat dengan apa yang aku ceritakan waktu kecil dulu?” ungkap Kazu dengan sangat bersemangat.

“Hmph, aku kira itu hanya bualan seorang laki laki yang tiap hari nongkrong di pasar terus.” sindir Lisa dengan nada tertawa. Seketika Kazu tidak berkutik. Speechless sepertinya.

“Baiklah, aku bersedia untuk mengikuti latihan yang akan engkau berikan kepadaku. Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanya Lisa.

“Eits, jangan terburu-buru dulu. Sebelum memulai petualangan ini aku harap kau sudah mendapatkan izin dari satu satunya bapakmu yang telah merawatmu selama ini, nak.” nasihat Yun dengan bijak. Lisa mengangguk mengerti.

“Lalu kemana kau akan membawa kami?” tanya Kazu.

“Ah, itu bukan urusanmu! Yang ingin jadi muridku Lisa, kok. Bukan kamu.” ledek Yun dengan tertawa. Kazu merasa dirinya dipermalukan selama disini. “Sa, kita pulang sekarang aja, yuk?” gerutu Kazu terhadap Lisa. Lisa hanya bisa tersenyum sembari menahan tawanya. Ia merasa bersalah juga dengan Kazu karena sudah mempermalukan dirinya dengan Yun.

“Baiklah, dengan ini aku anggap kalian semua mengerti apa yang kalian lakukan. Sekarang, kalian boleh pergi dari tenda ini. Aku harap aku tidak akan bertemu dengan kalian sampai esok hari.” ungkap Yun. Kedua anak tersebut mengangguk. Lalu keluar dari tenda tersebut. Dan segera pergi dari tempat tersebut.

“Selamat tinggal, Yun!” teriak Lisa.

Para elven kebingungan dengan perilaku Lisa. “Wah, berani sekali dia memanggil sang Arch Mage dengan namanya.” “Arch Mage, apa kau yakin mereka bisa menyelamatkan dunia ini?” tanya salah seorang elven. “Ya, aku sangat yakin. Aku sudah bisa melihatnya dari cara ia memperlakukanku. Tak beda dari para pendahulunya.” jawab Yun dengan sedikit tertawa.

“Lagipula, aku bisa melihat potensi dirinya. Dikelilingi dengan aura besar yang belum digunakan secara maksimal. Aku akan menuntun ia untuk menggunakan potensi yang terkubur di dalam dirinya. Dan sisanya aku serahkan kepada ia untuk mengembangkan kekuatannya.” jawab Yun dengan penuh keyakinan.

Tuesday, January 15, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 3


Chapter 3
Seeking the Truth of the Past
“Lisa, siapakah orang-orang itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat kepadamu? Apakah kau terluka?” tanya Kazu dengan penuh perhatian. “Tidak, Kazu. Hanya saja… Aku bingung dengan diriku sendiri, siapakah diriku sebenarnya? Apa yang terjadi 15 tahun yang lalu?” jawab Lisa dengan muka memelas.
“15 tahun yang lalu? Hmm… Ah! Aku ingat cerita dari orang-orang di bar! Katanya 15 tahun yang lalu sebuah kastil yang dikenal tidak dapat ditembus pertahanannya tiba-tiba hancur dan semua orang yang hidup di kastil itu tidak ada yang selamat. Lalu salah seorang dari mereka melihat api besar menyambar gelapnya langit. Hanya itu yang kudengar dari pintu belakang bar dekat pusat desa. Karena umurku belum cukup juga untuk masuk ke bar tersebut hahahahaha!” ujar Kazu dengan tertawa.
“Oh jadi begitu…” jawab Lisa, dengan menahan air mata yang telah ia bendung sejak berlari dari desa. Sejenak, suasanya menjadi sangat sepi. Lisa hanya bisa memandang lautan langit yang sangat gelap. Sementara Kazu berada disampingnya, menemani temannya yang kala dalam kebingungan yang amat dalam. Langit malam yang bertaburan bintang tanpa ditemani bulan sama sekali. Hening, itulah yang mereka rasakan berada di pinggir tebing yang biasa mereka gunakan untuk berbagi cerita.
“Kazu…” ucap Lisa dengan nada rendah. “Ya, ada apa, sa?”
“Apakah yang kau tahu tentang Priestess of the Moon?” tanya Lisa.
Kazu menggeleng kepalanya. Menandakan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Lisa maksut.

“Zu, sepertinya aku harus pergi ke tempat peristirahatan para manusia aneh itu.” kata Lisa. “A-apa? Apa y-yang akan kau lakukan?” tanya Kazu dengan muka penasaran. “Salah satu dari mereka mengatakan aku adalah keturunan terakhir Priestess of the Moon. Mungkin aku bisa mengetahui masa lalu ku yang sebenarnya! Dan mungkin, aku bisa menemukan ibuku dimana…!” jawab Lisa dengan penuh percaya diri.
“Hmmm, ya sudah. Kalau itu maumu, aku akan menemanimu besok.” janji Kazu kepada Lisa. “Haaaa! Terima kasih ya Kazu! Besok kita bertemu di tempat biasa pagi hari setelah matahari terbit ya!” jawab Lisa dengan girang. Setelah itu ia langsung memeluk temannya, dan secepat kilat berlari ke arah rumahnya. “A-aku dipeluk Lisa? Ha… Hahahaha…” sambil menahan mukanya yang terlihat malu. Ia akhirnya memutuskan untuk merenung sejenak di tebing tersebut. Mengingat kalau hari itu adalah kali pertamanya ia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya sendiri.
Keesokan harinya, keduanya sudah berkumpul di alun alun desa. Dan segera bergegas untuk pergi ke tempat yang mereka tuju, yaitu perkemahan para Elven. Tidak jauh juga untuk pergi ke sana, mereka hanya perlu melewati Bukit Hijau yang dikenal tidak pernah berubah warna selain Hijau. Walaupun salju melanda bukit tersebut.
Pada akhirnya sampailah mereka ke sebuah tenda besar yang berada tak jauh dari Bukit Hijau. Beberapa langkah sebelum mereka masuk ke tenda tersebut. Para elven telah menjamu mereka dan bertanya “Kau pasti Lisa?”. Lisa hanya mengangguk dan bertanya “Benar, kenapa kau tahu kedatangan kami?”. “Karena Yun, sang Arch Mage telah mengatakan kalau kalian akan datang pada hari ini.” ucap sang Elven.
Lalu mereka memasuki tenda tersebut. Di dalamnya sudah ada nenek-nenek yang menunggu kedatangan mereka. Sekali lagi Lisa ingin tertawa, namun akhirnya ia bisa menahan tawanya tersebut dikarenakan mengetahui kalo orang yang ia hadapi adalah seorang penyihir besar. Yang konon juga merupakan salah satu pahlawan yang menyelamatkan dunia.
“Aku mengetahui kau akan datang nak, kau sama sekali tak berubah dengan nenek moyangmu yang penasaran dengan segala hal…” ungkap Yun dengan nada pelan. “Kau pasti kesini ingin mengetahui kenapa kau terpilih untuk menyelamatkan dunia ini?” tanya Yun. “Iya, betul. Tapi sebelumnya, tolong beritahu aku siapakah diriku ini dan dimanakah ibuku?!” tanya Lisa dengan sedikit menaikkan suaranya.
“Hahaha, pelan sedikit nak, kau memang tak berbeda dari mereka… Tetapi, ketahuilah. Kalau kau ingin mengetahui masa lalumu, berarti kau siap untuk menerima kalau kau adalah satu satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia ini dan kau siap menerima kalu kenyataannya adalah…” tiba-tiba, ia tidak melanjutkan apa yang ia ucapkan.
“Apa? Kenyataan apa?” tanya Lisa dengan tak sabar.
“Nak, aku tahu kalau kau ingin mengetahui siapa Ibu kandungmu, tetapi… Ketauhilah… Kalau ia telah meninggal setelah meninggalkan dirimu yang masih kecil di rumah bapak tirimu…”
Sekali lagi jantung Lisa berdetak keras. Dan Lisa tertegun sesaat. Tidak percaya apa yang sang penyihir, Yun, katakan kepada dia.

Sunday, January 13, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 2


Chapter 2
 A New Fate
"Tapi sebelumnya, maafkanlah Ayah, sa. Semua ini terjadi 15 tahun yang lalu, ketika istriku pergi meninggalkanku karena dulu aku seorang yang bodoh, terlalu mementingkan pekerjaan daripada mengurusi keluargaku sendiri. Aku sedang dalam kebingungan sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berpikir negatif kalau hidupku akan hancur dan selesai dengan cepat. Sampai pada malam hari, sehabis aku pergi ke salah satu rumah teman kerjaku untuk menyelesaikan salah satu pesanan. Aku melihat sebuah keranjang kecil berada di depan rumahku. Saatku buka, aku melihat seorang bayi mungil. Dengan senyumnya yang manis, aku yakin ia sedang bermimpi dengan tenang. Seketika aku hanya bisa menggendongnya dan membawanya masuk ke rumah. Kuperhatikan senyumnya, membuatku merenung sepanjang malam. Antara sedih dan bahagia, sedih karena ditinggal oleh istriku, dan bahagia melihat malaikat kecil sepertimu. Sekarang kau sudah tumbuh besar, dan sudah kuketahui kau pasti akan menanyakan hal seperti ini, tapi.. aku.. aku--"
Tiba-tiba Lisa memeluk ayah tirinya, terus menangis sambil mengatakan "Ayah, kenapa kau membohongi aku? Kenapa kau mengatakan kalau Ibuku pergi berkelana dengan teman temannya? Mengapa kau bohong, kalau sebenarnya aku itu anak pungut? Mengapa? Mengapa yah??" tangis Lisa tersedu-sedu. Ayahnya yang mendengar itu hanya bisa menahan tangis, dan lama-lama rasa yang ia bendung itu tiba-tiba meluap sehingga ia tidak bisa menahannya lagi. Sambil memeluk erat Lisa, ia hanya mengatakan "Karena kamulah satu satunya anakku, sa! Hanya kamu yang aku miliki di dunia ini! Semua keluargaku sudah meninggalkanku karena aku ceroboh! Menemukanmu itu membuatku merenung kalau aku harus berubah! Karena itu aku sayang kamu, nak!! Walaupun kau bukan keturunanku tapi aku bangga dan bahagia mempunyai malaikat kecil sepertimu!" Seketika hati Lisa seperti tersentuh, tersentuh perkataan ayahnya yang ternyata sangat mencintai anaknya.
"Sudah yah. Aku mengerti sekarang... Terima kasih telah menjadi orang tua yang hebat untukku, terima kasih telah jujur kepadaku..." seketika setelah itu ia langsung rubuh ke ranjang ayahnya, mungkin ia lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Ayahnya kaget, namun tak lama ia tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa yang anaknya alami hari ini. Dengan menahan tangis, ia membiarkan Lisa tidur di ranjangnya yang sudah usang, dan memilih untuk tidur di sofa yang berada di ruang depan.
 Keesokan harinya, datang pasukan dari kerajaan Grimoire, kerajaan yang didominasi oleh bangsa elven, sejenis manusia tapi dengan daya sihir yang tinggi. Tak banyak untuk ukuran pasukan, sepertinya hanya 10 orang saja, itu pun juga tidak menggunakan baju zirah yang berat. Hanya menutupi bagian bagian penting saja. Dan di tengah tengah pasukan tersebut terlihat seorang nenek tua seperti penyihir, tetapi kalau dilihat dari mukanya bisa terlihat kalau ia wanita tua yang tenang dan tidak bermaksud jahat.
"Selamat siang, penduduk yang terhormat. Kami dari kerajaan Grimoire, datang untuk menginformasikan. Bahwa, dunia ini sedang dalam marabahaya yang sangat besar. Kebangkitan Iblis Besar di barat bumi tengah mengancam kehidupan kita! Namun, setelah diramalkan oleh Penyihir Besar Leira. Ia mengatakan kalau hanya seorang keturunan suci yang bisa mengalahkan Iblis Besar tersebut! Dan keturunan terakhirnya terdapat di desa ini!" teriak salah satu prajurit yang mengawali sekumpulan pasukan mereka. Warga desa pun langsung heboh, menanyakan "Siapakah keturunan suci itu?" "Apakah benar bumi dalam kiamat?" dan lain lain.
Bingung dengan apa yang terjadi di tengah desa. Lisa yang tengah mengelilingi desa spontan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia menerobos barisan orang yang sedang melihat apakah yang sedang terjadi. Saat sudah sampai di barisan terdepan. Ia melihat seorang nenek-nenek yang aneh, dengan muka yang sangat keriput. Dengan tidak sengaja Lisa tidak bisa menahan tawanya. "Ahahaha, aku tidak pernah liat nenek nenek seunik itu! Ahahahah! Tapi, aku harus menjaga sikapku, ta-tapi melihat mu-mukanya... Ahahahaha!!" Lisa terus tertawa kecil. Tidak sadar kalau orang orang di depannya langsung memperhatikannya.
"Hei, kau! Bocah! Apa yang kau tertawakan? Ini serius! Tidakkah kau tahu kalau orang yang di depan itu orang yang suci? Ia adalah pahlawan bumi, asal kamu tahu!" dengan sigap salah satu pasukan yang berbadan tinggi langsung mendekati Lisa dan menarik baju Lisa. Para penghuni desa langsung kaget. Tak menyangka bangsa Elven akan melakukan hal seperti itu. "So! Lepaskan dia! Dialah orang yang kita cari!!" Seketika Lisa dan semua orang yang berkumpul tertegun. Lisa tidak tahu apa yang terjadi disini. Sementara, Uso, prajurit yang menarik baju Lisa tadi. Langsung menurunkan Lisa, membungkuk dan meminta maaf.
 "A-a-apa yang terjadi disini? Kenapa, a-aku yang kamu tunjuk?" tanya Lisa dengan takut. "Kau, Lisa. Kau adalah keturunan terakhir dari Priestess of the Moon yang sudah berakhir 15 tahun yang lalu! Tapi sepertinya kau berhasil selamat dari serangan Orc yang mengenaskan. Inilah saatnya untuk pergi ke kastil kami di Utara. Takdir mu sudah menunggu..." kata nenek tua tersebut.
"Tidak! Tidak akan! Aku adalah diriku sendiri!! Aku melakukan apa yang aku mau!! Aku bukan seorang yang senang perang! Aku hanya mau hidup damai di dunia ini!! Hentikan ini!" dengan cepat setelah mengungkapkan perasaannya terhadap apa yang ia dengar. Lisa segera kabur dari sekerumunan pasukan dan penduduk desa. Beberapa pasukan ingin mengejarnya, tetapi sang nenek langsung menghentikannya. "Biarkan ia, ia butuh waktu untuk berpikir. Kita kembali lagi ke tempat istirahat kita dan kembali lagi esok. Karena aku yakin, ia pasti ingin merubah nasib dunia ini. Sama seperti nenek moyangnya, yang telah menyegel Iblis Besar Kal'gur beratus tahun yang lalu..."
Melihat Lisa berlari menjauhi kerumunan penduduk yang ramai. Kazu memutuskan untuk mengikutinya.