Farhan Personal Blog
Figure Enthusiast. Novelist Wannabe
Wednesday, March 6, 2013
The Last Priestess of the Moon - Chapter 6
Chapter 6
Let the training, begin!
“Lisaa!!” teriak Kazu. Lalu ia mengambil sebuah batu dan melemparnya ke naga tersebut. “Kalau kau mencari lawan yang sepadan lawanlah aku! Jangan sakiti dia!” lalu naga tersebut berbalik arah dan segera mengincar Kazu.
“Cukuuupp!!” tiba-tiba pedang yang Lisa genggam seketika langsung bercahaya terang. Dengan cepat Lisa lompat dan segera menebas sayap naga tersebut. Sayap naga tersebut putus! Naga tersebut pun jatuh ke tanah. Namun, Lisa tidak segera menghabisi nyawa naga tersebut. Dia memilih untuk mengangkat Kazu dan segera pergi ke tenda para Elven. Setidaknya, mereka terlepas dari bahaya untuk saat ini.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di tenda tersebut. “Astaga! Kenapa kalian sangat berantakan?” tanya salah satu seorang Elven. “Ditengah perjalanan kami kesini, seekor naga datang dan tak sengaja kami harus melawannya. Untung aku dan Kazu hanya mendapatkan luka gores saja.” jelas Lisa. Tak lama kemudian
Kazu tiba-tiba pingsan. Terlihat segores luka dengan darah segar menetes dari tangannya. “Tidak! Ini bukan luka biasa! Apakah naga yang kamu temui tadi adalah naga Intofar?” tanya sang Elven. “Errr… Aku tidak tahu pasti, namun naga tersebut berwarna merah di bagian kepala dan hijau di bagian badannya.” jelas Lisa. “Benar! Walau dengan cengkraman pun racun dari naga tersebut benar-benar mematikan! Kita harus membawa dia sekarang ke tabib agar bisa sembuh dari racun tersebut!” tak lama Kazu segera dilarikan oleh para Elven yang lain ke sebuah tenda kecil di dekatnya.
“Kazu… Maafkan aku… Andaikan aku bisa lebih cepat berpikir dan bertindak…” Lisa menyalahi dirinya sendiri dalam hati. Namun, tak lama kemudian sebuah tangan menepuk pundaknya. “Anak itu benar-benar merepotkan.” tiba-tiba Yun sudah dibelakang Lisa. “Mengapa kau tetap nekat untuk membawa anak manja itu?” tanya Yun.
“Ehehehe, mau gimana lagi dia sudah semangat duluan mendengar aku mau pergi. Lagipula, ia temanku dari kecil. Tak mungkin aku akan berpisah darinya. Jadi dia memutuskan untuk mengikutiku…” jelas Lisa.
“Aaah, jadi dia suka padamu…” jawab Yun dengan ekspresi mendatar. “Eng-engga! G-ga mungkin! Aneh-aneh aja…” tiba-tiba muka Lisa memerah sambil memandang jauh, membuang mukanya yang malu itu.
“Yasudah lah, tak usah dipikirkan. Sekarang ikut aku, aku akan memberitahumu tentang latihan yang harus kita laksanakan.” tiba-tiba Yun segera membalikkan badannya dan segera balik ke tendanya. Lisa segera mengikutinya.
“Jadi, saat melawan naga tadi. Apakah kau tahu kalau pedangmu tiba-tiba bersinar terang?” tanya Yun. “Y-ya! M-mengapa kau tahu?” Lisa kaget karena Yun tahu tentang hal yang terjadi tadi. “Kan sudah ku bilang, kalau aku bakal tahu hal yang terjadi sama kamu. Sebenarnya aku mau mengirim beberapa pasukan untuk membantu kalian. Tapi kalau dilihat juga kau mempunyai cukup nyali dan kekuatan untuk melawan naga tersebut. Jadi kubiarkan saja.” jawab Yun.
“Hmph, yasudah. Terus, apa hubungan pedang yang bersinar tersebut?”. “Aaaah, masa kamu lupa? Kekuatan Priestess akan keluar kalau kau ingin melindungi orang di sekitarmu! Apa yang kau pikirkan saat kau ingin menyelamatkan bocah ingusan itu?” tanya Yun dengan muka serius.
“A… Aku mau Kazu tetap hidup…” jawab Lisa.
“Tuh, kan. Kamu juga suka dia.” jawab Yun. “B-bukan maksutnya aku suka dia! T-tapi karena memang dia dalam bahaya, j-jadi.. –“ “Yaudah yaudah! Gak usah dipikirkan lagi. Sekarang balik ke topik. Berarti dengan keluarnya sinar tersebut karena kamu ingin melindungi Kazu. Kesimpulannya adalah?” tanya Yun.
“Artinya, aku sudah menggunakan sebagian kekuatanku untuk melindungi Kazu?” tanya Lisa. “Tepat sekali! Sepertinya kamu sudah menemukan 5% dari kekuatanmu. Sekarang disini saatnya kau melatih kekuatanmu, mungkin sampai 20% atau 1/5 dari kekuatanmu.” jawab Yun.
“Tapi, tunggu! Kenapa hanya sampai 20%?”
“Yah karena aku hanya bisa sampai situ saja! Dan kamu harus mulai pergi ke berbagai macam tempat untuk mencari kekuatanmu. Jadi disini aku hanya memberikan dasar dari kekuatanmu. Sisanya kau yang cari sendiri.” jelas Yun.
“Tapi bagaimana kalau aku tidak mendapatkan semua kekuatanku?” tanya Lisa sedikit pesimis.
“Aku percaya kepadamu kalau kau bisa mendapatkannya…” bisik Yun kepada Lisa.
“T-tapi kalau kau percaya kepadaku kalau aku bisa melakukannya, nanti—“
“Nak, kau ini banyak tanya. Jelas untuk mendapatkan kekuatan ini kau juga tidak bisa belajar teori saja untuk melakukan prakteknya. Jadi kau harus mencari pengalaman juga untuk mendapatkan kekuatanmu.” jelas Yun.
“Baiklah… (Padahal aku gak ngerti sama sekali dengan apa yang ia bicarakan…)” omong ia di dalam hatinya.
“Apa? Kau masih tidak mengerti?” tanya Yun. Sepertinya ia baru saja membaca pikiran Lisa.
“Aaah! Tidak-tidak! Aku hanya bercanda! Tentu saja aku mengerti!” jawab Lisa. “Baiklah, kau sebaiknya istirahat dulu. Tenda disebelah sana sudah disiapkan untukmu dan Kazu. Tapi sepertinya Kazu malam ini akan dirawat di tenda si tabib. Latihan akan kita mulai besok pagi. Usahakan kamu bisa istirahat dengan cukup.” jelas Yun.
“Err, aku masih engga tau tendanya yang mana yah…” tanya Lisa, bingung.
“Baiklah, Geo! Antar dia ke tenda tersebut.” perintah Yun
“B-baik, Arch Mage!” jawab seseorang dari luar tenda. Begitu ia masuk, seorang bocah kecil, kira-kira berumur 8 tahun masuk ke dalam tenda. “Ayo! Ikut aku!” ajak sang bocah.
“B-baiklah…” lalu Lisa segera mengikuti anak tersebut.
Selang 3 menit kemudian…
“Baiklah ini tempat istirahatmu! Aku harap kau bisa beristirahat disini!” sahut anak tersebut dengan riang.
“Hmm, baiklah. Terima kas… Err, tadi namamu siapa, ya?” tanya Lisa. “Geo! Geo Alsteir!” jawab anak tersebut dengan ceria. “Oke, terima kasih ya, Geo!” lalu anak tersebut lari ke tenda yang lain. Mungkin ia juga ingin beristirahat.
Lisa segera menjatuhkan badannya ke ranjang. Dan segera menutup matanya.
Sunday, February 10, 2013
February Collection Quick Review
Oke, setelah udah lama engga ngasih review figur dan beberapa mokit gue. Mulai dari bulan ini gue akan ngepost beberapa quick review tentang beberapa figure gue.
Enjoy ^-^
Enjoy ^-^
Gundam Section
| HGUC 1/144 RX-93 Nu Gundam |
| MG 1/100 Astray Blue Frame 2nd |
| NG 1/100 GN-001 Exia |
ACTION FIGURES SECTION
| Revoltech Yamaguchi Hunter Blademaster Rathalos |
| Figma Black Rock Shooter 2035 |
Untuk bulan ini dan sebelumnya kolpri baru gue baru si Armor Rathalos sama Nu Gundam ehehehe
Okee sekian untuk bulan ini, semoga minggu depan bisa nambah ya koleksi gue heheheheh
Friday, February 8, 2013
The Last Priestess of the Moon - Chapter 5
Chapter 5
Wyverian Sword
Kedua
anak ini telah sampai di desa. Seperti biasa, mereka sepakat untuk berkumpul di
alun alun desa terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan mereka. Lisa berpikir
sangat mudah hanya untuk memulai perjalanan. Namun ia tidak lupa dengan ayah
tiri yang telah mengurus hidupnya selama 16 tahun terakhir. Lisa memutuskan
untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara bersama Kazu demi
menyelamatkan dunia.
Sampai
di rumah. Ayahnya terlihat sedang beristirahat di kursi santai miliknya sambil
menulis di sebuah buku. Nampaknya ia sedang menulis di buku harian. Lisa tak
menyangka ayahnya gemar menulis kisah hidupnya di buku harian.
“Aku
pulang, yah.” Lisa memasuki ruang makan dan langsung menyambar ayahnya yang
tengah duduk di kursi santainya. “Kemana saja kamu seharian ini, Lis? Kenapa
kau pagi-pagi pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku? Untung saja ibu
Kazu memberitahuku kalau kau akan pergi ke Bukit Hijau. Tapi apa yang kau
lakukan disana?” tanya ayah Lisa dengan penuh penasaran. Lisa mulai menceritakan
semua yang ia alami dari kemarin.
“Jadi,
itu yang orang-orang desa bicarakan kemarin?” tanya Ayah. Lisa menganggukan
kepalanya. “Aku rasa aku tidak punya pilihan lain, apabila ayah mengikutimu
rasanya akan merepotkanmu. Jujur walaupun ayah tidak rela melepasmu karena
kamulah satu satunya anggota keluarga yang kumiliki. Tapi mendengar kamu
memiliki tugas penting yang tak dapat dihindar lagi. Ayah rasa ayah harus
merelakan kamu untuk pergi.” tutur ayahnya.
“Ayah…
terima kasih, yah! Telah merawatku dari kecil hingga sekarang… Tapi besok aku
harus pergi dari sini… Aku harap ayah mengerti dengan apa yang terjadi
sekarang…” jawab Lisa dengan nada sedikit merendah.
Sambil
tersenyum, ayahnya memeluk Lisa dan menjawab “Tidak apa-apa, nak. Ayah mengerti
suatu hari hal yang tak terduga pasti akan terjadi. Dan itulah hari ini…”
Esok
harinya, disaat fajar sudah menyambut desa tersebut. Ayah membantu Lisa
menyiapkan perlengkapannya. Mulai dari tas, baju, makanan, dan uang. Tetapi
diantara semua itu ada sesuatu spesial yang khusus diberikan Ayah kepada Lisa.
“Lisa,
tunggu! Sebelum kau pergi. Ayah mau kau membawa pedang ini…”
Ayah
lalu mengambil sesuatu dari kamarnya. Tak lama, ia keluar dengan sebuah pedang
panjang. Dengan gagang yang kuat, dan mata pedang yang bahannya terbuat dari
kulit monster berwarna merah. Ayah menghunus pedang tersebut. Lisa sedikit
kaget. Namun, ia sepertinya sudah biasa melihat ayahnya menghunus beberapa
pedang yang dibuatnya. Tetapi, yang kali ini aneh. Sebuah pedang yang tidak
biasa dibuat oleh ayahnya…
“Dulu
ada seorang pemburu monster memintaku membuat pedang dari kulit monster. Ia
sendiri yang membawakan bahan-bahan tersebut. Tak lama aku segera membuat
pedang yang ia pesan. Namun, seminggu kemudian setelah pedang ini jadi.
Ditemukan pemburu tersebut mati di Gunung Avhazel. Sehingga tidak ada yang mau
mengambil pedang ini. Aku rasa pedang ini cukup untuk menemanimu selama
perjalanan. Dan semoga semua tekhnik bela diri yang aku ajarkan kepadamu kelak
berguna juga. Hahaha ha haa!” cerita Ayahnya dengan tawa khasnya.
Lisa
lalu mencoba pedang tersebut. Menghunusnya dengan pelan-pelan. “Aneh, aku kira
pedang yang panjang ini pedang yang berat. Tapi, mengapa beratnya tak lebih
dari sebuah pedang kayu?” lalu dengan penasaran Lisa keluar dari rumah dan segera
mencari pohon. Ditariknya pedang tersebut dari sarungnya, ia arahkan ke arah
ranting pohon yang lumayan besar. Dan ia ayunkan dengan cepat. Ranting pohon
tersebut terpotong menjadi dua dengan mudahnya. Padahal untuk memotong ranting
yang besar itu dibutuhkan beberapa kali ayunan sebuah kapak untuk terbelah
menjadi dua. Puas dengan kekuatan pedang tersebut. Lisa segera masuk ke dalam
rumah. Mengatakan kepada ayahnya kalau ini adalah pedang paling aneh yang
pernah ia coba. “Aaah kamu tidak usah mengatakan yang aneh-aneh! Mungkin
sekarang Kazu sudah menunggumu di alun-alun desa.”
Lisa
lupa janjinya dengan Kazu karena keanehan pedang ini! Dengan segera ia berpamit
kepada ayahnya. Lalu segera berlari menuju pusat desa. “Hati-hati, nak. Jadilah
anak yang berguna bagi semua orang…” teriak Ayahnya. Lisa terhenti, menengok ke
belakang. Dan menjawab “Tenang yah! Semua yang kau ajarkan kepadaku tidak akan
terbuang sia sia!” lalu ia segera melanjutkan perjalanannya ke alun-alun desa. Dilihatnya
Kazu sudah menunggu sambil memakan roti. Melihat Lisa dari kejauhan. Kazu
melambaikan tangannya. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi
“Bagaimana?
Kau sudah siap?” tanya Kazu dengan semangat.
“Yah,
aku sedikit gugup. Ayahku memberikan aku pedang ini. Dia berharap pedang ini
dapat melindungi kita selama perjalanan” Lisa menyodorkan pedang yang ia bawa.
“Wow!
I-ini kan… Kulit dari seekor naga di gunung! Aaah para pemburu di desa kita
sedang gempar membicarakan naga ini!” ungkap Kazu dengan terkaget-kaget. “Dan
kalau kita berhasil membunuh naga tersebut, kita—“
“Yaaaah
terserah apa katamu. Daripada kita ngomong gak jelas. Mending kita segera jalan
ke tenda para manusia aneh itu.” potong Lisa. Kazu sedikit kesal namun ia
tersadar hari semakin siang. Jadi mereka harus segera memulai perjalanan mereka
dari desa tersebut.
“Aku
tak menyangka, hidupku berubah karena dengan masalah Priestess gak jelas ini.”
gerutu Lisa dalam hati. “Namun, kalau saja aku kabur dari mereka. Aku tidak
tahu nasib dunia ini. Karena… Ini sudah takdirku untuk menjadi seorang
Priestess.” “Hei, Lisa! Kenapa kamu bengong? Apakah semua hal ini membuatmu
galau?” tiba-tiba Kazu membuat semua pikiran Lisa buyar. “Kita sudah sampai
Bukit Hijau, tak lama lagi kita akan sampai di tenda para Elven!” ungkap Kazu.
“Aaah,
tidak kusangka perjalanan begitu cepat…” gumam Lisa dalam hati.
Namun,
langit mendadak menjadi gelap. Mereka mengira kalau sebentar lagi akan hujan.
Tapi yang mereka bayangkan berbeda jauh dari yang terjadi. Tak mungkin ada
suara kepakan sayap apabila ingin turun hujan. Tak mungkin juga suhu disekitar
mereka jadi panas. Dan tak mungkin juga terdengar suara naga dari atas langit.
Ya, benar. Seekor naga ternamg melewati mereka. Menerjang seekor rusa tak jauh
dari mereka. Mencabik dan mengais rusa tersebut dengan cakarnya yang sangat
tajam. Anehnya, Kazu dan Lisa hanya bengong melihat naga tersebut. Tidak bisa
bergerak sama sekali. Keringat dingin pun mengalir dari kepala mereka. Seketika
naga tersebut menatap kedua anak ini. Tatapan yang tajam membuat mereka seakan
menjadi santapan pagi tambahan bagi naga tersebut
“Ini
aneh! T-tak mungkin naga ini akan turun gunung ke bukit ini!” Kazu sedikit
ketakutan dengan apa yang ia lihat sekarang.
Naga
tersebut membalikkan badannya. Lalu ia lari dengan sekencang-kencangnya ke
kedua anak tersebut.
“Kazu!
Awas!” teriak Lisa sambil mendorong Kazu. “Lisa! Gunakan pedangmu! Jangan
bilang kau bawa pedang tersebut untuk gaya-gayaan aja!” teriak Kazu sambil
berlari terengah engah.
“Tidak,
bodoh! Tentu saja aku bisa memakai pedang ini! Namun aku tidak pernah melawan
seekor naga yang buas!” jawab Lisa. “Aaaarrrghh!!!” tiba-tiba sebuah teriakan
keras datang dari arah Kazu.
Kaki
Kazu tersandung. Sialnya ia tidak melihat sebuah batu besar berada di depannya.
Naga tersebut mengambil ancang-ancang untuk menerkamnya. Dengan pelan naga
tersebut membuka mulutnya yang lebar. “LISA! AYUNKAN PEDANGMU SEKARANG!!”
teriakan Kazu membuat Lisa segera bergerak cepat. Ia ayunkan pedang ke ekor
naga tersebut. “Lepaskan temanku sekarang!!” teriak Lisa sambil mengayunkan
pedangnya. Pedang tersebut berhasil menembus ekor sang naga. Tetapi, sepertinya
itu tidak membuatnya kesakitan.
Naga
tersebut menghadap kebelakang. Melepas Kazu yang sudah ketakutan setengah mati.
Mengeluarkan teriakan yang sangat menggelegar. Dan seketika berkobar api di
matanya. Menandakan kalau naga ini mungkin sudah marah karena tidak dapat
menyantap sarapan paginya.
Friday, January 25, 2013
A New Mission!
Sudah lama sekali saya tidak post apa-apa disini selain proyek light novel saya yang akan berhenti di chapter 5 (karena sisanya akan gue kerjakan diam diam dan mau gue kirim ke penerbit :), doain yah bisa keterima di penerbit! :D)
Well, jadi gue buat gebrakan baru di tahun 2013 ini. Daaann... akhirnya gue sekarang punya 2 cita-cita. Yang pertama adalah menjadi businessman, yang kedua menjadi seorang novelis. Yup, novelis. Entah akhir-akhir ini gue lagi demen banget bikin cerita "light novel" alias novel ringan. Sebenernya gue udah punya hobi "menghayal" macam kayak gini, cuman kata temen gue "Menghayal itu gampang han, hanya menuangkannya kedalam kata-kata itu yang susah" dan dia bener banget 100%, menulis gak segampang gue menghayal. Maka karena itu gue berharap dari temen-temen gue buat ngebantu gue koreksi dan kritik karya tulis yang gue tulis akhir-akhir ini :D
Jadi selama liburan ini gue sih cuman, yaa biasa, dota, ngerakit gundam, and any shit that will make me happy, specially fap. oh ok, damn. no.
entah kenapa untuk kali ini gue udh males, sumpah, nulis entry baru. mungkin karena udah kelebihan gue tuangkan ke dunia imajinasi (baca: project light novel gue)
yaudah lah gimanalagi udh males nulis HAHAHAHA
bye =="
Well, jadi gue buat gebrakan baru di tahun 2013 ini. Daaann... akhirnya gue sekarang punya 2 cita-cita. Yang pertama adalah menjadi businessman, yang kedua menjadi seorang novelis. Yup, novelis. Entah akhir-akhir ini gue lagi demen banget bikin cerita "light novel" alias novel ringan. Sebenernya gue udah punya hobi "menghayal" macam kayak gini, cuman kata temen gue "Menghayal itu gampang han, hanya menuangkannya kedalam kata-kata itu yang susah" dan dia bener banget 100%, menulis gak segampang gue menghayal. Maka karena itu gue berharap dari temen-temen gue buat ngebantu gue koreksi dan kritik karya tulis yang gue tulis akhir-akhir ini :D
Jadi selama liburan ini gue sih cuman, yaa biasa, dota, ngerakit gundam, and any shit that will make me happy, specially fap. oh ok, damn. no.
entah kenapa untuk kali ini gue udh males, sumpah, nulis entry baru. mungkin karena udah kelebihan gue tuangkan ke dunia imajinasi (baca: project light novel gue)
yaudah lah gimanalagi udh males nulis HAHAHAHA
bye =="
The Last Priestess of the Moon - Chapter 4
Chapter 4
The
Briefing and Objective
Seketika Lisa langsung
memeluk Kazu. Dengan erat Ia menangis tersedu-sedu. “Sudah sa. Ini sudah
berlalu lama sekali. Walaupun Ibumu sudah mati, ia akan tetap menjagamu. Karena
kasih Ibu tidak akan terputus sekalipun ia tidak menemanimu sekarang. Aku yakin
ia pasti sedang melihatmu jauh dari sana.” ungkap Kazu untuk menenangkan hati
Lisa. “Kazu... Terima kasih telah membantuku selama ini…” jawab Lisa sambil
mengusap matanya
“Nak, aku sudah
mengatakan kepadamu kalau jangan kaget apabila aku mengatakan yang sebenarnya.
Sekarang aku akan memberitahumu tentang apa yang dimaksud Priestess of the
Moon.” Lisa langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar apa yang Yun
katakan. Seperti orang yang haus akan informasi. Ia mulai
mendengarkan apa yang
Yun katakan.
“Seorang Priestess of
the Moon merupakan title yang diberikan kepada orang yang dipilih oleh bulan.
Seribu tahun yang lalu. Generasi pertama dari Priestess of the Moon menyegel
seorang Iblis yang membawa kekacauan di muka bumi ini. Para Priestess
mendirikan sebuah kerajaan sendiri walaupun mereka tidak terlibat secara
langsung di kerajaan tersebut. Pada akhirnya dikenal dengan Kerajaan Nightwall
dengan kastilnya Prein. Setiap generasi menjaga kastil tersebut karena di
kastil tersebut merupakan tempat disegelnya sang iblis besar. Pada akhirnya
kastil tersebut hancur oleh serangan Orc yang membawa High Shaman mereka secara
langsung. Untuk merapal mereka agar tidak terdeteksi oleh kekuatan mendeteksi
bahaya sang Priestess. Sudah 15 tahun sepertinya persiapan kebangkitan sang
Iblis sudah hampir selesai. Kau, Lisa, merupakan generasi terakhir Priestess.
Hanya kau yang memiliki kekuatan untuk menyegel sang iblis. Walaupun bulan
belum menunjuk siapakah dirimu itu. Namun aku yakin kau pasti bisa melaksanakan
tugasmu sebagai Priestess.” cerita Yun mengenai Priestess of the Moon.
“Mengapa kau tahu kalau
aku bisa menjadi Priesteress of the Moon?” tanya Lisa. “Karena kau adalah
generasi terakhir dari garis keturunan ini, dan aku sudah bisa melihat dari
dalam dirimu kalau kau akan menjadi Priestess of the Moon.” jawab Yun dengan
muka sedikit tersenyum. “Nak, kau akan kuberitahu. Priestess of the Moon beda
dengan seorang priest atau priestess. Mereka diberi kekuatan oleh bulan untuk
melindungi orang di sekitarnya. Tak jarang ada juga yang menyebut mereka
sebagai ‘Holy Warrior of the Moon’.”
“’Holy Warrior of the
Moon’? Itu bahkan lebih keren! Priestess terdengar membosankan, hahahahaha!”
celetuk Kazu dengan tertawa. “Ssstt! Kazu, kau memalukanku! Bisakah kau diam di
tempat seperti ini?” gerutu Lisa sambil menepuk punggu Kazu sedikit keras.
“Hahahahaha, kalian anak muda akan menjadi pasangan yang cocok dalam hidup
kalian.” potong Yun seraya tertawa kecil. Kedua anak tersebut langsung diam,
saling memandang, dan berteriak “Tidak akan!” dengan muka memerah.
“Hahahahaha, aku hanya
bercanda. Jadi, bagaimana menurutmu, Priestess of the Moon? Apakah kau sudah
mengerti dengan tujuanmu?”
Lisa terdiam untuk
sesaat dan menjawab “Aku hanya bingung, apabila aku orang terakhir yang bisa
menjadi seorang Priestess of the Moon dan Priestess sendiri dipilih oleh bulan.
Bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan itu?”.
“Karena itulah aku
menyuruhmu pergi ke sini, bocah. Untuk tahap pertama aku bisa membantumu,
karena dulu aku pernah menyaksikan proses seorang Priestess mendapatkan
kekuatannya. Aku harap aku bisa membantu sedikit. Tapi untuk selanjutnya, kau
harus mencarinya sendiri. Berkelana ke berbagai belahan negeri yang ada di
dunia ini.” jawab Yun meyakini Lisa.
“Aha! Ini terdengar
seperti petualangan! Kau dengar, Lisa? Ini seperti yang aku impikan sejak
kecil! Petualangan! Harta karun! Monster dan masih banyak lagi!” serentak Kazu
seperti orang kegirangan yang haus akan petualangan. Dengan muka tidak ada
harapan, Lisa menjawab “Hei hei, Kazu! Perasaan aku deh yang akan pergi
berpetualang, kenapa kamu yang sangat antusias.” “Yah karena ini impianku sejak
kecil! Menjadi pemburu harta karun yang mengelilingi dunia yang luas ini! Ah
masa kamu tidak ingat dengan apa yang aku ceritakan waktu kecil dulu?” ungkap
Kazu dengan sangat bersemangat.
“Hmph, aku kira itu
hanya bualan seorang laki laki yang tiap hari nongkrong di
pasar terus.” sindir Lisa dengan nada tertawa. Seketika Kazu tidak berkutik. Speechless sepertinya.
“Baiklah, aku bersedia
untuk mengikuti latihan yang akan engkau berikan kepadaku. Sekarang apa yang
harus kulakukan?” tanya Lisa.
“Eits, jangan
terburu-buru dulu. Sebelum memulai petualangan ini aku harap kau sudah
mendapatkan izin dari satu satunya bapakmu yang telah merawatmu selama ini,
nak.” nasihat Yun dengan bijak. Lisa mengangguk mengerti.
“Lalu kemana kau akan
membawa kami?” tanya Kazu.
“Ah, itu bukan
urusanmu! Yang ingin jadi muridku Lisa, kok. Bukan kamu.” ledek Yun dengan
tertawa. Kazu merasa dirinya dipermalukan selama disini. “Sa, kita pulang
sekarang aja, yuk?” gerutu Kazu terhadap Lisa. Lisa hanya bisa tersenyum
sembari menahan tawanya. Ia merasa bersalah juga dengan Kazu karena sudah
mempermalukan dirinya dengan Yun.
“Baiklah, dengan ini
aku anggap kalian semua mengerti apa yang kalian lakukan. Sekarang, kalian
boleh pergi dari tenda ini. Aku harap aku tidak akan bertemu dengan kalian
sampai esok hari.” ungkap Yun. Kedua anak tersebut mengangguk. Lalu keluar dari
tenda tersebut. Dan segera pergi dari tempat tersebut.
“Selamat tinggal, Yun!”
teriak Lisa.
Para elven kebingungan
dengan perilaku Lisa. “Wah, berani sekali dia memanggil sang Arch Mage dengan namanya.” “Arch Mage, apa kau yakin mereka bisa
menyelamatkan dunia ini?” tanya salah seorang elven. “Ya, aku sangat yakin. Aku
sudah bisa melihatnya dari cara ia memperlakukanku. Tak beda dari para
pendahulunya.” jawab Yun dengan sedikit tertawa.
“Lagipula, aku bisa
melihat potensi dirinya. Dikelilingi dengan aura besar yang belum digunakan
secara maksimal. Aku akan menuntun ia untuk menggunakan potensi yang terkubur
di dalam dirinya. Dan sisanya aku serahkan kepada ia untuk mengembangkan
kekuatannya.” jawab Yun dengan penuh keyakinan.
Tuesday, January 15, 2013
The Last Priestess of the Moon - Chapter 3
Chapter 3
Seeking the Truth of the Past
“Lisa,
siapakah orang-orang itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat kepadamu?
Apakah kau terluka?” tanya Kazu dengan penuh perhatian. “Tidak, Kazu. Hanya
saja… Aku bingung dengan diriku sendiri, siapakah diriku sebenarnya? Apa yang
terjadi 15 tahun yang lalu?” jawab Lisa dengan muka memelas.
“15
tahun yang lalu? Hmm… Ah! Aku ingat cerita dari orang-orang di bar! Katanya 15
tahun yang lalu sebuah kastil yang dikenal tidak dapat ditembus pertahanannya
tiba-tiba hancur dan semua orang yang hidup di kastil itu tidak ada yang
selamat. Lalu salah seorang dari mereka melihat api besar menyambar gelapnya
langit. Hanya itu yang kudengar dari pintu belakang bar dekat pusat desa.
Karena umurku belum cukup juga untuk masuk ke bar tersebut hahahahaha!” ujar
Kazu dengan tertawa.
“Oh
jadi begitu…” jawab Lisa, dengan menahan air mata yang telah ia bendung sejak
berlari dari desa. Sejenak, suasanya menjadi sangat sepi. Lisa hanya bisa
memandang lautan langit yang sangat gelap. Sementara Kazu berada disampingnya,
menemani temannya yang kala dalam kebingungan yang amat dalam. Langit malam
yang bertaburan bintang tanpa ditemani bulan sama sekali. Hening, itulah yang
mereka rasakan berada di pinggir tebing yang biasa mereka gunakan untuk berbagi
cerita.
“Kazu…”
ucap Lisa dengan nada rendah. “Ya, ada apa, sa?”
“Apakah
yang kau tahu tentang Priestess of the Moon?” tanya Lisa.
Kazu
menggeleng kepalanya. Menandakan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Lisa
maksut.
“Zu,
sepertinya aku harus pergi ke tempat peristirahatan para manusia aneh itu.”
kata Lisa. “A-apa? Apa y-yang akan kau lakukan?” tanya Kazu dengan muka
penasaran. “Salah satu dari mereka mengatakan aku adalah keturunan terakhir
Priestess of the Moon. Mungkin aku bisa mengetahui masa lalu ku yang
sebenarnya! Dan mungkin, aku bisa menemukan ibuku dimana…!” jawab Lisa dengan
penuh percaya diri.
“Hmmm,
ya sudah. Kalau itu maumu, aku akan menemanimu besok.” janji Kazu kepada Lisa.
“Haaaa! Terima kasih ya Kazu! Besok kita bertemu di tempat biasa pagi hari
setelah matahari terbit ya!” jawab Lisa dengan girang. Setelah itu ia langsung
memeluk temannya, dan secepat kilat berlari ke arah rumahnya. “A-aku dipeluk
Lisa? Ha… Hahahaha…” sambil menahan mukanya yang terlihat malu. Ia akhirnya
memutuskan untuk merenung sejenak di tebing tersebut. Mengingat kalau hari itu
adalah kali pertamanya ia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya sendiri.
Keesokan
harinya, keduanya sudah berkumpul di alun alun desa. Dan segera bergegas untuk
pergi ke tempat yang mereka tuju, yaitu perkemahan para Elven. Tidak jauh juga
untuk pergi ke sana, mereka hanya perlu melewati Bukit Hijau yang dikenal tidak
pernah berubah warna selain Hijau. Walaupun salju melanda bukit tersebut.
Pada
akhirnya sampailah mereka ke sebuah tenda besar yang berada tak jauh dari Bukit
Hijau. Beberapa langkah sebelum mereka masuk ke tenda tersebut. Para elven
telah menjamu mereka dan bertanya “Kau pasti Lisa?”. Lisa hanya mengangguk dan
bertanya “Benar, kenapa kau tahu kedatangan kami?”. “Karena Yun, sang Arch Mage
telah mengatakan kalau kalian akan datang pada hari ini.” ucap sang Elven.
Lalu
mereka memasuki tenda tersebut. Di dalamnya sudah ada nenek-nenek yang menunggu
kedatangan mereka. Sekali lagi Lisa ingin tertawa, namun akhirnya ia bisa
menahan tawanya tersebut dikarenakan mengetahui kalo orang yang ia hadapi
adalah seorang penyihir besar. Yang konon juga merupakan salah satu pahlawan
yang menyelamatkan dunia.
“Aku
mengetahui kau akan datang nak, kau sama sekali tak berubah dengan nenek
moyangmu yang penasaran dengan segala hal…” ungkap Yun dengan nada pelan. “Kau
pasti kesini ingin mengetahui kenapa kau terpilih untuk menyelamatkan dunia
ini?” tanya Yun. “Iya, betul. Tapi sebelumnya, tolong beritahu aku siapakah diriku
ini dan dimanakah ibuku?!” tanya Lisa dengan sedikit menaikkan suaranya.
“Hahaha,
pelan sedikit nak, kau memang tak berbeda dari mereka… Tetapi, ketahuilah.
Kalau kau ingin mengetahui masa lalumu, berarti kau siap untuk menerima kalau
kau adalah satu satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia ini dan kau siap
menerima kalu kenyataannya adalah…” tiba-tiba, ia tidak melanjutkan apa yang ia
ucapkan.
“Apa?
Kenyataan apa?” tanya Lisa dengan tak sabar.
“Nak,
aku tahu kalau kau ingin mengetahui siapa Ibu kandungmu, tetapi… Ketauhilah…
Kalau ia telah meninggal setelah meninggalkan dirimu yang masih kecil di rumah
bapak tirimu…”
Sekali
lagi jantung Lisa berdetak keras. Dan Lisa tertegun sesaat. Tidak percaya apa
yang sang penyihir, Yun, katakan kepada dia.
Sunday, January 13, 2013
The Last Priestess of the Moon - Chapter 2
Chapter 2
A New Fate
"Tapi
sebelumnya, maafkanlah Ayah, sa. Semua ini terjadi 15 tahun yang lalu, ketika
istriku pergi meninggalkanku karena dulu aku seorang yang bodoh, terlalu
mementingkan pekerjaan daripada mengurusi keluargaku sendiri. Aku sedang dalam
kebingungan sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berpikir negatif
kalau hidupku akan hancur dan selesai dengan cepat. Sampai pada malam hari,
sehabis aku pergi ke salah satu rumah teman kerjaku untuk menyelesaikan salah
satu pesanan. Aku melihat sebuah keranjang kecil berada di depan rumahku. Saatku
buka, aku melihat seorang bayi mungil. Dengan senyumnya yang manis, aku yakin
ia sedang bermimpi dengan tenang. Seketika aku hanya bisa menggendongnya dan
membawanya masuk ke rumah. Kuperhatikan senyumnya, membuatku merenung sepanjang
malam. Antara sedih dan bahagia, sedih karena ditinggal oleh istriku, dan
bahagia melihat malaikat kecil sepertimu. Sekarang kau sudah tumbuh besar, dan
sudah kuketahui kau pasti akan menanyakan hal seperti ini, tapi.. aku..
aku--"
Tiba-tiba
Lisa memeluk ayah tirinya, terus menangis sambil mengatakan "Ayah, kenapa
kau membohongi aku? Kenapa kau mengatakan kalau Ibuku pergi berkelana dengan
teman temannya? Mengapa kau bohong, kalau sebenarnya aku itu anak pungut?
Mengapa? Mengapa yah??" tangis Lisa tersedu-sedu. Ayahnya yang mendengar
itu hanya bisa menahan tangis, dan lama-lama rasa yang ia bendung itu tiba-tiba
meluap sehingga ia tidak bisa menahannya lagi. Sambil memeluk erat Lisa, ia
hanya mengatakan "Karena kamulah satu satunya anakku, sa! Hanya kamu yang
aku miliki di dunia ini! Semua keluargaku sudah meninggalkanku karena aku
ceroboh! Menemukanmu itu membuatku merenung kalau aku harus berubah! Karena itu
aku sayang kamu, nak!! Walaupun kau bukan keturunanku tapi aku bangga dan
bahagia mempunyai malaikat kecil sepertimu!" Seketika hati Lisa seperti
tersentuh, tersentuh perkataan ayahnya yang ternyata sangat mencintai anaknya.
"Sudah
yah. Aku mengerti sekarang... Terima kasih telah menjadi orang tua yang hebat
untukku, terima kasih telah jujur kepadaku..." seketika setelah itu ia langsung
rubuh ke ranjang ayahnya, mungkin ia lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
Ayahnya kaget, namun tak lama ia tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa yang
anaknya alami hari ini. Dengan menahan tangis, ia membiarkan Lisa tidur di
ranjangnya yang sudah usang, dan memilih untuk tidur di sofa yang berada di
ruang depan.
Keesokan
harinya, datang pasukan dari kerajaan Grimoire, kerajaan yang didominasi oleh bangsa
elven, sejenis manusia tapi dengan daya sihir yang tinggi. Tak banyak untuk
ukuran pasukan, sepertinya hanya 10 orang saja, itu pun juga tidak menggunakan
baju zirah yang berat. Hanya menutupi bagian bagian penting saja. Dan di tengah
tengah pasukan tersebut terlihat seorang nenek tua seperti penyihir, tetapi
kalau dilihat dari mukanya bisa terlihat kalau ia wanita tua yang tenang dan
tidak bermaksud jahat.
"Selamat
siang, penduduk yang terhormat. Kami dari kerajaan Grimoire, datang untuk
menginformasikan. Bahwa, dunia ini sedang dalam marabahaya yang sangat besar.
Kebangkitan Iblis Besar di barat bumi tengah mengancam kehidupan kita! Namun,
setelah diramalkan oleh Penyihir Besar Leira. Ia mengatakan kalau hanya seorang
keturunan suci yang bisa mengalahkan Iblis Besar tersebut! Dan keturunan
terakhirnya terdapat di desa ini!" teriak salah satu prajurit yang
mengawali sekumpulan pasukan mereka. Warga desa pun langsung heboh, menanyakan
"Siapakah keturunan suci itu?" "Apakah benar bumi dalam
kiamat?" dan lain lain.
Bingung
dengan apa yang terjadi di tengah desa. Lisa yang tengah mengelilingi desa
spontan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia menerobos barisan orang yang
sedang melihat apakah yang sedang terjadi. Saat sudah sampai di barisan
terdepan. Ia melihat seorang nenek-nenek yang aneh, dengan muka yang sangat
keriput. Dengan tidak sengaja Lisa tidak bisa menahan tawanya. "Ahahaha,
aku tidak pernah liat nenek nenek seunik itu! Ahahahah! Tapi, aku harus menjaga
sikapku, ta-tapi melihat mu-mukanya... Ahahahaha!!" Lisa terus tertawa
kecil. Tidak sadar kalau orang orang di depannya langsung memperhatikannya.
"Hei, kau! Bocah!
Apa yang kau tertawakan? Ini serius! Tidakkah kau tahu kalau orang yang di
depan itu orang yang suci? Ia adalah pahlawan bumi, asal kamu tahu!"
dengan
sigap salah satu pasukan yang berbadan tinggi langsung mendekati Lisa dan
menarik baju Lisa. Para penghuni desa langsung kaget. Tak menyangka bangsa
Elven akan melakukan hal seperti itu. "So! Lepaskan dia! Dialah orang yang
kita cari!!" Seketika Lisa dan semua orang yang berkumpul tertegun. Lisa
tidak tahu apa yang terjadi disini. Sementara, Uso, prajurit yang menarik baju
Lisa tadi. Langsung menurunkan Lisa, membungkuk dan meminta maaf.
"A-a-apa yang terjadi disini? Kenapa,
a-aku yang kamu tunjuk?" tanya Lisa dengan takut. "Kau, Lisa. Kau
adalah keturunan terakhir dari Priestess of the Moon yang sudah berakhir 15
tahun yang lalu! Tapi sepertinya kau berhasil selamat dari serangan Orc yang
mengenaskan. Inilah saatnya untuk pergi ke kastil kami di Utara. Takdir mu
sudah menunggu..." kata nenek tua tersebut.
"Tidak!
Tidak akan! Aku adalah diriku sendiri!! Aku melakukan apa yang aku mau!! Aku
bukan seorang yang senang perang! Aku hanya mau hidup damai di dunia ini!!
Hentikan ini!" dengan cepat setelah mengungkapkan perasaannya terhadap apa
yang ia dengar. Lisa segera kabur dari sekerumunan pasukan dan penduduk desa.
Beberapa pasukan ingin mengejarnya, tetapi sang nenek langsung menghentikannya.
"Biarkan ia, ia butuh waktu untuk berpikir. Kita kembali lagi ke tempat
istirahat kita dan kembali lagi esok. Karena aku yakin, ia pasti ingin merubah
nasib dunia ini. Sama seperti nenek moyangnya, yang telah menyegel Iblis Besar
Kal'gur beratus tahun yang lalu..."
Melihat
Lisa berlari menjauhi kerumunan penduduk yang ramai. Kazu memutuskan untuk
mengikutinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)