Chapter 2
A New Fate
"Tapi
sebelumnya, maafkanlah Ayah, sa. Semua ini terjadi 15 tahun yang lalu, ketika
istriku pergi meninggalkanku karena dulu aku seorang yang bodoh, terlalu
mementingkan pekerjaan daripada mengurusi keluargaku sendiri. Aku sedang dalam
kebingungan sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berpikir negatif
kalau hidupku akan hancur dan selesai dengan cepat. Sampai pada malam hari,
sehabis aku pergi ke salah satu rumah teman kerjaku untuk menyelesaikan salah
satu pesanan. Aku melihat sebuah keranjang kecil berada di depan rumahku. Saatku
buka, aku melihat seorang bayi mungil. Dengan senyumnya yang manis, aku yakin
ia sedang bermimpi dengan tenang. Seketika aku hanya bisa menggendongnya dan
membawanya masuk ke rumah. Kuperhatikan senyumnya, membuatku merenung sepanjang
malam. Antara sedih dan bahagia, sedih karena ditinggal oleh istriku, dan
bahagia melihat malaikat kecil sepertimu. Sekarang kau sudah tumbuh besar, dan
sudah kuketahui kau pasti akan menanyakan hal seperti ini, tapi.. aku..
aku--"
Tiba-tiba
Lisa memeluk ayah tirinya, terus menangis sambil mengatakan "Ayah, kenapa
kau membohongi aku? Kenapa kau mengatakan kalau Ibuku pergi berkelana dengan
teman temannya? Mengapa kau bohong, kalau sebenarnya aku itu anak pungut?
Mengapa? Mengapa yah??" tangis Lisa tersedu-sedu. Ayahnya yang mendengar
itu hanya bisa menahan tangis, dan lama-lama rasa yang ia bendung itu tiba-tiba
meluap sehingga ia tidak bisa menahannya lagi. Sambil memeluk erat Lisa, ia
hanya mengatakan "Karena kamulah satu satunya anakku, sa! Hanya kamu yang
aku miliki di dunia ini! Semua keluargaku sudah meninggalkanku karena aku
ceroboh! Menemukanmu itu membuatku merenung kalau aku harus berubah! Karena itu
aku sayang kamu, nak!! Walaupun kau bukan keturunanku tapi aku bangga dan
bahagia mempunyai malaikat kecil sepertimu!" Seketika hati Lisa seperti
tersentuh, tersentuh perkataan ayahnya yang ternyata sangat mencintai anaknya.
"Sudah
yah. Aku mengerti sekarang... Terima kasih telah menjadi orang tua yang hebat
untukku, terima kasih telah jujur kepadaku..." seketika setelah itu ia langsung
rubuh ke ranjang ayahnya, mungkin ia lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
Ayahnya kaget, namun tak lama ia tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa yang
anaknya alami hari ini. Dengan menahan tangis, ia membiarkan Lisa tidur di
ranjangnya yang sudah usang, dan memilih untuk tidur di sofa yang berada di
ruang depan.
Keesokan
harinya, datang pasukan dari kerajaan Grimoire, kerajaan yang didominasi oleh bangsa
elven, sejenis manusia tapi dengan daya sihir yang tinggi. Tak banyak untuk
ukuran pasukan, sepertinya hanya 10 orang saja, itu pun juga tidak menggunakan
baju zirah yang berat. Hanya menutupi bagian bagian penting saja. Dan di tengah
tengah pasukan tersebut terlihat seorang nenek tua seperti penyihir, tetapi
kalau dilihat dari mukanya bisa terlihat kalau ia wanita tua yang tenang dan
tidak bermaksud jahat.
"Selamat
siang, penduduk yang terhormat. Kami dari kerajaan Grimoire, datang untuk
menginformasikan. Bahwa, dunia ini sedang dalam marabahaya yang sangat besar.
Kebangkitan Iblis Besar di barat bumi tengah mengancam kehidupan kita! Namun,
setelah diramalkan oleh Penyihir Besar Leira. Ia mengatakan kalau hanya seorang
keturunan suci yang bisa mengalahkan Iblis Besar tersebut! Dan keturunan
terakhirnya terdapat di desa ini!" teriak salah satu prajurit yang
mengawali sekumpulan pasukan mereka. Warga desa pun langsung heboh, menanyakan
"Siapakah keturunan suci itu?" "Apakah benar bumi dalam
kiamat?" dan lain lain.
Bingung
dengan apa yang terjadi di tengah desa. Lisa yang tengah mengelilingi desa
spontan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia menerobos barisan orang yang
sedang melihat apakah yang sedang terjadi. Saat sudah sampai di barisan
terdepan. Ia melihat seorang nenek-nenek yang aneh, dengan muka yang sangat
keriput. Dengan tidak sengaja Lisa tidak bisa menahan tawanya. "Ahahaha,
aku tidak pernah liat nenek nenek seunik itu! Ahahahah! Tapi, aku harus menjaga
sikapku, ta-tapi melihat mu-mukanya... Ahahahaha!!" Lisa terus tertawa
kecil. Tidak sadar kalau orang orang di depannya langsung memperhatikannya.
"Hei, kau! Bocah!
Apa yang kau tertawakan? Ini serius! Tidakkah kau tahu kalau orang yang di
depan itu orang yang suci? Ia adalah pahlawan bumi, asal kamu tahu!"
dengan
sigap salah satu pasukan yang berbadan tinggi langsung mendekati Lisa dan
menarik baju Lisa. Para penghuni desa langsung kaget. Tak menyangka bangsa
Elven akan melakukan hal seperti itu. "So! Lepaskan dia! Dialah orang yang
kita cari!!" Seketika Lisa dan semua orang yang berkumpul tertegun. Lisa
tidak tahu apa yang terjadi disini. Sementara, Uso, prajurit yang menarik baju
Lisa tadi. Langsung menurunkan Lisa, membungkuk dan meminta maaf.
"A-a-apa yang terjadi disini? Kenapa,
a-aku yang kamu tunjuk?" tanya Lisa dengan takut. "Kau, Lisa. Kau
adalah keturunan terakhir dari Priestess of the Moon yang sudah berakhir 15
tahun yang lalu! Tapi sepertinya kau berhasil selamat dari serangan Orc yang
mengenaskan. Inilah saatnya untuk pergi ke kastil kami di Utara. Takdir mu
sudah menunggu..." kata nenek tua tersebut.
"Tidak!
Tidak akan! Aku adalah diriku sendiri!! Aku melakukan apa yang aku mau!! Aku
bukan seorang yang senang perang! Aku hanya mau hidup damai di dunia ini!!
Hentikan ini!" dengan cepat setelah mengungkapkan perasaannya terhadap apa
yang ia dengar. Lisa segera kabur dari sekerumunan pasukan dan penduduk desa.
Beberapa pasukan ingin mengejarnya, tetapi sang nenek langsung menghentikannya.
"Biarkan ia, ia butuh waktu untuk berpikir. Kita kembali lagi ke tempat
istirahat kita dan kembali lagi esok. Karena aku yakin, ia pasti ingin merubah
nasib dunia ini. Sama seperti nenek moyangnya, yang telah menyegel Iblis Besar
Kal'gur beratus tahun yang lalu..."
Melihat
Lisa berlari menjauhi kerumunan penduduk yang ramai. Kazu memutuskan untuk
mengikutinya.
No comments:
Post a Comment