Thursday, January 10, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 1


Chapter 1
The Fragment of Memories
15 tahun kemudian, anak yang ditinggalkan itu berkembang menjadi gadis yang sangat sehat dan cantik. Ayahnya memberi nama gadis ini bernama Lisa. Tubuhnya yang sedang dan kulit yang mulus menjadikan ia dikenal oleh 1 desa. Selain orangnya yang cantik, ia dikenal juga dengan orang yang sangat, baik hati. Tak ada seorang pun  yang benci dengan dia. Ayahnya satu satunya pembuat pedang di desa itu. Kualitas pedangnya sudah dikenal dimanapun. Menjadi seorang ayah tanpa istri yang menemaninya yang mengasuh Lisa cukup membuat hidupnya bahagia.
Hari ini, merupakan ulang tahun Lisa yang ke 16. Walapun begitu ia tidak mau merayakannya dengan teman temannya atau dengan meriah. Sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya sendiri untuk tidak merayakan ulang tahunnya karena ia yakin tiap tahun yang ia lalui akan mengurangi umurnya sendiri. Jadi ia memutuskan untuk merenung dirinya di tepi sebuah tebing.  Ia memandang betapa indahnya dunia ini.
Beberapa menit melamun, ia dikagetkan dengan seorang lelaki yang menyapanya. Rupanya itu Kazu, teman Lisa sejak berumur 6 tahun. Mereka kenal satu sama lain karena kejadian konyol. Mungkin karena itu yang membuat mereka akrab sampai umur 16 tahun ini.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kazu.
“Hmm, tak ada.  Hanya merenungi hari ulang tahun ku.” Jawab Lisa.
“Kau ulang tahun hari ini? Wah aku tidak tahu, selamat ulang tahun ya!” jawab Kazu dengan senyuman kecil. Lisa hanya tertawa kecil melihat temannya memberikan ucapan selamat kepadanya.

“Ingatkah kau saat kita bertemu? Di pasar? “ tanya Kazu. “Ahahaha, iyaa aku ingat kejadian itu, benar-benar memalukan diriku sampai aku tidak mau mengingatnya lagi, hahahaha” jawab Lisa sambil tertawa.
“Bagaimana dengan kejadian di kedai roti milik ibu Dorothy? Saat kau memberikan takaran yang berlebihan ternyata oven yang digunakan penuh oleh roti yang gagal?”
“Ahahahaha, itu merupakan pertama kalinya aku memanggang roti, dan aku tak menyangka kalau aku tidak boleh memberikan takaran yang berlebihan! Akhirnya kita harus membersihkan oven itu selama sehari penuh” jawab Lisa. Mereka akhirnya tertawa bersama, dengan mengenang masa lalu mereka yang tidak dapat  mereka lupakan.
“Tapi, mengapa kau diam disini, tidakkah kau merayakannya di rumah bersama Ibu dan Bapakmu?”
Seketika, hati Lisa seperti berhenti mendadak. Degupan jantung yang makin kencang. Ia terdiam untuk sesaat.
“Lisa, kau tidak apa-apa?” Kazu kaget dengan omongan yang lontarkan tadi. “Apakah yang ku katakan tadi salah? Oh Lisa, maafkan aku! Aku tidak tahu apa yang terjadi…” ungkap Kazu dengan nada bersalah
“Tidak apa-apa, Ka.  Hanya saja, aku hanya ingin menyendiri…” jawab Lisa pelan. Kazu hanya bisa menahan nafasnya, sambil bersembari pergi, ia berbisik sebentar ke Lisa “Sa, maafkan aku…” lalu ia pergi berlalu, meninggalkan Lisa sendiri di tebing tersebut. Lisa hanya bisa menahan tangis, ada apa dengan ibunya? Mengapa ia meninggalkan ayahnya dan dirinya sendiri? Ia hanyut di pemikiran ia yang sangat rumit.
                                    “……. Criiiikkkkkk…… criiiiiiiiiikkk….”

Seketika kepala Lisa dipenuhi dengan bunyi yang sangat nyaring,  pandangannya kabur seketika menjadi putih, suara nyaring itu tiba-tiba berubah menjadi… bunyi baju zirah yang berat berjalan kesana kemari.  Kejadian yang berlangsung selama 10 detik itu akhirnya membuat Lisa tersadar. Namun dalam keadaan pusing ia berjalan untuk bersandar di satu satunya pohon di tebing itu. Sambil memandang bulan yang bersinar sangat cerah. Ia hanya memikirkan satu saja dalam dirinya: “Siapakah aku? Dimanakah ibuku?”
Karena kejadian aneh itu ia akhirnya memutuskan untuk pulang, berencana untuk menanyakan kepada ayahnya dan bertanya tentang kejadian yang ia alami hari ini. Saat sampai rumah, ia segera menceritakan semua kejadian yang ia alami. Sang ayah menghela nafas panjang, diam sejenak, dan berkata…
“Nak, harus ada yang ayah katakan kepadamu…”

No comments:

Post a Comment