Chapter 1
The Fragment of Memories
15
tahun kemudian, anak yang ditinggalkan itu berkembang menjadi gadis yang sangat
sehat dan cantik. Ayahnya memberi nama gadis ini bernama Lisa. Tubuhnya yang
sedang dan kulit yang mulus menjadikan ia dikenal oleh 1 desa. Selain orangnya
yang cantik, ia dikenal juga dengan orang yang sangat, baik hati. Tak ada
seorang pun yang benci dengan dia.
Ayahnya satu satunya pembuat pedang di desa itu. Kualitas pedangnya sudah
dikenal dimanapun. Menjadi seorang ayah tanpa istri yang menemaninya yang
mengasuh Lisa cukup membuat hidupnya bahagia.
Hari
ini, merupakan ulang tahun Lisa yang ke 16. Walapun begitu ia tidak mau
merayakannya dengan teman temannya atau dengan meriah. Sudah menjadi kebiasaan
bagi dirinya sendiri untuk tidak merayakan ulang tahunnya karena ia yakin tiap
tahun yang ia lalui akan mengurangi umurnya sendiri. Jadi ia memutuskan untuk
merenung dirinya di tepi sebuah tebing.
Ia memandang betapa indahnya dunia ini.
Beberapa
menit melamun, ia dikagetkan dengan seorang lelaki yang menyapanya. Rupanya itu
Kazu, teman Lisa sejak berumur 6 tahun. Mereka kenal satu sama lain karena
kejadian konyol. Mungkin karena itu yang membuat mereka akrab sampai umur 16
tahun ini.
“Apa
yang kau lakukan?” Tanya Kazu.
“Hmm,
tak ada. Hanya merenungi hari ulang
tahun ku.” Jawab Lisa.
“Kau
ulang tahun hari ini? Wah aku tidak tahu, selamat ulang tahun ya!” jawab Kazu
dengan senyuman kecil. Lisa hanya tertawa kecil melihat temannya memberikan
ucapan selamat kepadanya.
“Ingatkah
kau saat kita bertemu? Di pasar? “ tanya Kazu. “Ahahaha, iyaa aku ingat
kejadian itu, benar-benar memalukan diriku sampai aku tidak mau mengingatnya
lagi, hahahaha” jawab Lisa sambil tertawa.
“Bagaimana
dengan kejadian di kedai roti milik ibu Dorothy? Saat kau memberikan takaran
yang berlebihan ternyata oven yang digunakan penuh oleh roti yang gagal?”
“Ahahahaha,
itu merupakan pertama kalinya aku memanggang roti, dan aku tak menyangka kalau
aku tidak boleh memberikan takaran yang berlebihan! Akhirnya kita harus
membersihkan oven itu selama sehari penuh” jawab Lisa. Mereka akhirnya tertawa
bersama, dengan mengenang masa lalu mereka yang tidak dapat mereka lupakan.
“Tapi,
mengapa kau diam disini, tidakkah kau merayakannya di rumah bersama Ibu dan
Bapakmu?”
Seketika,
hati Lisa seperti berhenti mendadak. Degupan jantung yang makin kencang. Ia
terdiam untuk sesaat.
“Lisa,
kau tidak apa-apa?” Kazu kaget dengan omongan yang lontarkan tadi. “Apakah yang
ku katakan tadi salah? Oh Lisa, maafkan aku! Aku tidak tahu apa yang terjadi…”
ungkap Kazu dengan nada bersalah
“Tidak
apa-apa, Ka. Hanya saja, aku hanya ingin
menyendiri…” jawab Lisa pelan. Kazu hanya bisa menahan nafasnya, sambil
bersembari pergi, ia berbisik sebentar ke Lisa “Sa, maafkan aku…” lalu ia pergi
berlalu, meninggalkan Lisa sendiri di tebing tersebut. Lisa hanya bisa menahan
tangis, ada apa dengan ibunya? Mengapa ia meninggalkan ayahnya dan dirinya
sendiri? Ia hanyut di pemikiran ia yang sangat rumit.
“…….
Criiiikkkkkk…… criiiiiiiiiikkk….”
Seketika
kepala Lisa dipenuhi dengan bunyi yang sangat nyaring, pandangannya kabur seketika menjadi putih,
suara nyaring itu tiba-tiba berubah menjadi… bunyi baju zirah yang berat
berjalan kesana kemari. Kejadian yang berlangsung
selama 10 detik itu akhirnya membuat Lisa tersadar. Namun dalam keadaan pusing
ia berjalan untuk bersandar di satu satunya pohon di tebing itu. Sambil
memandang bulan yang bersinar sangat cerah. Ia hanya memikirkan satu saja dalam
dirinya: “Siapakah aku? Dimanakah ibuku?”
Karena
kejadian aneh itu ia akhirnya memutuskan untuk pulang, berencana untuk
menanyakan kepada ayahnya dan bertanya tentang kejadian yang ia alami hari ini.
Saat sampai rumah, ia segera menceritakan semua kejadian yang ia alami. Sang
ayah menghela nafas panjang, diam sejenak, dan berkata…
“Nak,
harus ada yang ayah katakan kepadamu…”
No comments:
Post a Comment