Friday, January 25, 2013

A New Mission!

Sudah lama sekali saya tidak post apa-apa disini selain proyek light novel saya yang akan berhenti di chapter 5 (karena sisanya akan gue kerjakan diam diam dan mau gue kirim ke penerbit :), doain yah bisa keterima di penerbit! :D)

Well, jadi gue buat gebrakan baru di tahun 2013 ini. Daaann... akhirnya gue sekarang punya 2 cita-cita. Yang pertama adalah menjadi businessman, yang kedua menjadi seorang novelis. Yup, novelis. Entah akhir-akhir ini gue lagi demen banget bikin cerita "light novel" alias novel ringan. Sebenernya gue udah punya hobi "menghayal" macam kayak gini, cuman kata temen gue "Menghayal itu gampang han, hanya menuangkannya kedalam kata-kata itu yang susah" dan dia bener banget 100%, menulis gak segampang gue menghayal. Maka karena itu gue berharap dari temen-temen gue buat ngebantu gue koreksi dan kritik karya tulis yang gue tulis akhir-akhir ini :D

Jadi selama liburan ini gue sih cuman, yaa biasa, dota, ngerakit gundam, and any shit that will make me happy, specially fap. oh ok, damn. no.

entah kenapa untuk kali ini gue udh males, sumpah, nulis entry baru. mungkin karena udah kelebihan gue tuangkan ke dunia imajinasi (baca: project light novel gue)













yaudah lah gimanalagi udh males nulis HAHAHAHA

bye =="

The Last Priestess of the Moon - Chapter 4


Chapter 4

The Briefing and Objective

Seketika Lisa langsung memeluk Kazu. Dengan erat Ia menangis tersedu-sedu. “Sudah sa. Ini sudah berlalu lama sekali. Walaupun Ibumu sudah mati, ia akan tetap menjagamu. Karena kasih Ibu tidak akan terputus sekalipun ia tidak menemanimu sekarang. Aku yakin ia pasti sedang melihatmu jauh dari sana.” ungkap Kazu untuk menenangkan hati Lisa. “Kazu... Terima kasih telah membantuku selama ini…” jawab Lisa sambil mengusap matanya 

“Nak, aku sudah mengatakan kepadamu kalau jangan kaget apabila aku mengatakan yang sebenarnya. Sekarang aku akan memberitahumu tentang apa yang dimaksud Priestess of the Moon.” Lisa langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar apa yang Yun katakan. Seperti orang yang haus akan informasi. Ia mulai
mendengarkan apa yang Yun katakan.

“Seorang Priestess of the Moon merupakan title yang diberikan kepada orang yang dipilih oleh bulan. Seribu tahun yang lalu. Generasi pertama dari Priestess of the Moon menyegel seorang Iblis yang membawa kekacauan di muka bumi ini. Para Priestess mendirikan sebuah kerajaan sendiri walaupun mereka tidak terlibat secara langsung di kerajaan tersebut. Pada akhirnya dikenal dengan Kerajaan Nightwall dengan kastilnya Prein. Setiap generasi menjaga kastil tersebut karena di kastil tersebut merupakan tempat disegelnya sang iblis besar. Pada akhirnya kastil tersebut hancur oleh serangan Orc yang membawa High Shaman mereka secara langsung. Untuk merapal mereka agar tidak terdeteksi oleh kekuatan mendeteksi bahaya sang Priestess. Sudah 15 tahun sepertinya persiapan kebangkitan sang Iblis sudah hampir selesai. Kau, Lisa, merupakan generasi terakhir Priestess. Hanya kau yang memiliki kekuatan untuk menyegel sang iblis. Walaupun bulan belum menunjuk siapakah dirimu itu. Namun aku yakin kau pasti bisa melaksanakan tugasmu sebagai Priestess.” cerita Yun mengenai Priestess of the Moon.

“Mengapa kau tahu kalau aku bisa menjadi Priesteress of the Moon?” tanya Lisa. “Karena kau adalah generasi terakhir dari garis keturunan ini, dan aku sudah bisa melihat dari dalam dirimu kalau kau akan menjadi Priestess of the Moon.” jawab Yun dengan muka sedikit tersenyum. “Nak, kau akan kuberitahu. Priestess of the Moon beda dengan seorang priest atau priestess. Mereka diberi kekuatan oleh bulan untuk melindungi orang di sekitarnya. Tak jarang ada juga yang menyebut mereka sebagai ‘Holy Warrior of the Moon’.”

“’Holy Warrior of the Moon’? Itu bahkan lebih keren! Priestess terdengar membosankan, hahahahaha!” celetuk Kazu dengan tertawa. “Ssstt! Kazu, kau memalukanku! Bisakah kau diam di tempat seperti ini?” gerutu Lisa sambil menepuk punggu Kazu sedikit keras. “Hahahahaha, kalian anak muda akan menjadi pasangan yang cocok dalam hidup kalian.” potong Yun seraya tertawa kecil. Kedua anak tersebut langsung diam, saling memandang, dan berteriak “Tidak akan!” dengan muka memerah.

“Hahahahaha, aku hanya bercanda. Jadi, bagaimana menurutmu, Priestess of the Moon? Apakah kau sudah mengerti dengan tujuanmu?”

Lisa terdiam untuk sesaat dan menjawab “Aku hanya bingung, apabila aku orang terakhir yang bisa menjadi seorang Priestess of the Moon dan Priestess sendiri dipilih oleh bulan. Bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan itu?”.

“Karena itulah aku menyuruhmu pergi ke sini, bocah. Untuk tahap pertama aku bisa membantumu, karena dulu aku pernah menyaksikan proses seorang Priestess mendapatkan kekuatannya. Aku harap aku bisa membantu sedikit. Tapi untuk selanjutnya, kau harus mencarinya sendiri. Berkelana ke berbagai belahan negeri yang ada di dunia ini.” jawab Yun meyakini Lisa.

“Aha! Ini terdengar seperti petualangan! Kau dengar, Lisa? Ini seperti yang aku impikan sejak kecil! Petualangan! Harta karun! Monster dan masih banyak lagi!” serentak Kazu seperti orang kegirangan yang haus akan petualangan. Dengan muka tidak ada harapan, Lisa menjawab “Hei hei, Kazu! Perasaan aku deh yang akan pergi berpetualang, kenapa kamu yang sangat antusias.” “Yah karena ini impianku sejak kecil! Menjadi pemburu harta karun yang mengelilingi dunia yang luas ini! Ah masa kamu tidak ingat dengan apa yang aku ceritakan waktu kecil dulu?” ungkap Kazu dengan sangat bersemangat.

“Hmph, aku kira itu hanya bualan seorang laki laki yang tiap hari nongkrong di pasar terus.” sindir Lisa dengan nada tertawa. Seketika Kazu tidak berkutik. Speechless sepertinya.

“Baiklah, aku bersedia untuk mengikuti latihan yang akan engkau berikan kepadaku. Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanya Lisa.

“Eits, jangan terburu-buru dulu. Sebelum memulai petualangan ini aku harap kau sudah mendapatkan izin dari satu satunya bapakmu yang telah merawatmu selama ini, nak.” nasihat Yun dengan bijak. Lisa mengangguk mengerti.

“Lalu kemana kau akan membawa kami?” tanya Kazu.

“Ah, itu bukan urusanmu! Yang ingin jadi muridku Lisa, kok. Bukan kamu.” ledek Yun dengan tertawa. Kazu merasa dirinya dipermalukan selama disini. “Sa, kita pulang sekarang aja, yuk?” gerutu Kazu terhadap Lisa. Lisa hanya bisa tersenyum sembari menahan tawanya. Ia merasa bersalah juga dengan Kazu karena sudah mempermalukan dirinya dengan Yun.

“Baiklah, dengan ini aku anggap kalian semua mengerti apa yang kalian lakukan. Sekarang, kalian boleh pergi dari tenda ini. Aku harap aku tidak akan bertemu dengan kalian sampai esok hari.” ungkap Yun. Kedua anak tersebut mengangguk. Lalu keluar dari tenda tersebut. Dan segera pergi dari tempat tersebut.

“Selamat tinggal, Yun!” teriak Lisa.

Para elven kebingungan dengan perilaku Lisa. “Wah, berani sekali dia memanggil sang Arch Mage dengan namanya.” “Arch Mage, apa kau yakin mereka bisa menyelamatkan dunia ini?” tanya salah seorang elven. “Ya, aku sangat yakin. Aku sudah bisa melihatnya dari cara ia memperlakukanku. Tak beda dari para pendahulunya.” jawab Yun dengan sedikit tertawa.

“Lagipula, aku bisa melihat potensi dirinya. Dikelilingi dengan aura besar yang belum digunakan secara maksimal. Aku akan menuntun ia untuk menggunakan potensi yang terkubur di dalam dirinya. Dan sisanya aku serahkan kepada ia untuk mengembangkan kekuatannya.” jawab Yun dengan penuh keyakinan.

Tuesday, January 15, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 3


Chapter 3
Seeking the Truth of the Past
“Lisa, siapakah orang-orang itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat kepadamu? Apakah kau terluka?” tanya Kazu dengan penuh perhatian. “Tidak, Kazu. Hanya saja… Aku bingung dengan diriku sendiri, siapakah diriku sebenarnya? Apa yang terjadi 15 tahun yang lalu?” jawab Lisa dengan muka memelas.
“15 tahun yang lalu? Hmm… Ah! Aku ingat cerita dari orang-orang di bar! Katanya 15 tahun yang lalu sebuah kastil yang dikenal tidak dapat ditembus pertahanannya tiba-tiba hancur dan semua orang yang hidup di kastil itu tidak ada yang selamat. Lalu salah seorang dari mereka melihat api besar menyambar gelapnya langit. Hanya itu yang kudengar dari pintu belakang bar dekat pusat desa. Karena umurku belum cukup juga untuk masuk ke bar tersebut hahahahaha!” ujar Kazu dengan tertawa.
“Oh jadi begitu…” jawab Lisa, dengan menahan air mata yang telah ia bendung sejak berlari dari desa. Sejenak, suasanya menjadi sangat sepi. Lisa hanya bisa memandang lautan langit yang sangat gelap. Sementara Kazu berada disampingnya, menemani temannya yang kala dalam kebingungan yang amat dalam. Langit malam yang bertaburan bintang tanpa ditemani bulan sama sekali. Hening, itulah yang mereka rasakan berada di pinggir tebing yang biasa mereka gunakan untuk berbagi cerita.
“Kazu…” ucap Lisa dengan nada rendah. “Ya, ada apa, sa?”
“Apakah yang kau tahu tentang Priestess of the Moon?” tanya Lisa.
Kazu menggeleng kepalanya. Menandakan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Lisa maksut.

“Zu, sepertinya aku harus pergi ke tempat peristirahatan para manusia aneh itu.” kata Lisa. “A-apa? Apa y-yang akan kau lakukan?” tanya Kazu dengan muka penasaran. “Salah satu dari mereka mengatakan aku adalah keturunan terakhir Priestess of the Moon. Mungkin aku bisa mengetahui masa lalu ku yang sebenarnya! Dan mungkin, aku bisa menemukan ibuku dimana…!” jawab Lisa dengan penuh percaya diri.
“Hmmm, ya sudah. Kalau itu maumu, aku akan menemanimu besok.” janji Kazu kepada Lisa. “Haaaa! Terima kasih ya Kazu! Besok kita bertemu di tempat biasa pagi hari setelah matahari terbit ya!” jawab Lisa dengan girang. Setelah itu ia langsung memeluk temannya, dan secepat kilat berlari ke arah rumahnya. “A-aku dipeluk Lisa? Ha… Hahahaha…” sambil menahan mukanya yang terlihat malu. Ia akhirnya memutuskan untuk merenung sejenak di tebing tersebut. Mengingat kalau hari itu adalah kali pertamanya ia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya sendiri.
Keesokan harinya, keduanya sudah berkumpul di alun alun desa. Dan segera bergegas untuk pergi ke tempat yang mereka tuju, yaitu perkemahan para Elven. Tidak jauh juga untuk pergi ke sana, mereka hanya perlu melewati Bukit Hijau yang dikenal tidak pernah berubah warna selain Hijau. Walaupun salju melanda bukit tersebut.
Pada akhirnya sampailah mereka ke sebuah tenda besar yang berada tak jauh dari Bukit Hijau. Beberapa langkah sebelum mereka masuk ke tenda tersebut. Para elven telah menjamu mereka dan bertanya “Kau pasti Lisa?”. Lisa hanya mengangguk dan bertanya “Benar, kenapa kau tahu kedatangan kami?”. “Karena Yun, sang Arch Mage telah mengatakan kalau kalian akan datang pada hari ini.” ucap sang Elven.
Lalu mereka memasuki tenda tersebut. Di dalamnya sudah ada nenek-nenek yang menunggu kedatangan mereka. Sekali lagi Lisa ingin tertawa, namun akhirnya ia bisa menahan tawanya tersebut dikarenakan mengetahui kalo orang yang ia hadapi adalah seorang penyihir besar. Yang konon juga merupakan salah satu pahlawan yang menyelamatkan dunia.
“Aku mengetahui kau akan datang nak, kau sama sekali tak berubah dengan nenek moyangmu yang penasaran dengan segala hal…” ungkap Yun dengan nada pelan. “Kau pasti kesini ingin mengetahui kenapa kau terpilih untuk menyelamatkan dunia ini?” tanya Yun. “Iya, betul. Tapi sebelumnya, tolong beritahu aku siapakah diriku ini dan dimanakah ibuku?!” tanya Lisa dengan sedikit menaikkan suaranya.
“Hahaha, pelan sedikit nak, kau memang tak berbeda dari mereka… Tetapi, ketahuilah. Kalau kau ingin mengetahui masa lalumu, berarti kau siap untuk menerima kalau kau adalah satu satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia ini dan kau siap menerima kalu kenyataannya adalah…” tiba-tiba, ia tidak melanjutkan apa yang ia ucapkan.
“Apa? Kenyataan apa?” tanya Lisa dengan tak sabar.
“Nak, aku tahu kalau kau ingin mengetahui siapa Ibu kandungmu, tetapi… Ketauhilah… Kalau ia telah meninggal setelah meninggalkan dirimu yang masih kecil di rumah bapak tirimu…”
Sekali lagi jantung Lisa berdetak keras. Dan Lisa tertegun sesaat. Tidak percaya apa yang sang penyihir, Yun, katakan kepada dia.

Sunday, January 13, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 2


Chapter 2
 A New Fate
"Tapi sebelumnya, maafkanlah Ayah, sa. Semua ini terjadi 15 tahun yang lalu, ketika istriku pergi meninggalkanku karena dulu aku seorang yang bodoh, terlalu mementingkan pekerjaan daripada mengurusi keluargaku sendiri. Aku sedang dalam kebingungan sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berpikir negatif kalau hidupku akan hancur dan selesai dengan cepat. Sampai pada malam hari, sehabis aku pergi ke salah satu rumah teman kerjaku untuk menyelesaikan salah satu pesanan. Aku melihat sebuah keranjang kecil berada di depan rumahku. Saatku buka, aku melihat seorang bayi mungil. Dengan senyumnya yang manis, aku yakin ia sedang bermimpi dengan tenang. Seketika aku hanya bisa menggendongnya dan membawanya masuk ke rumah. Kuperhatikan senyumnya, membuatku merenung sepanjang malam. Antara sedih dan bahagia, sedih karena ditinggal oleh istriku, dan bahagia melihat malaikat kecil sepertimu. Sekarang kau sudah tumbuh besar, dan sudah kuketahui kau pasti akan menanyakan hal seperti ini, tapi.. aku.. aku--"
Tiba-tiba Lisa memeluk ayah tirinya, terus menangis sambil mengatakan "Ayah, kenapa kau membohongi aku? Kenapa kau mengatakan kalau Ibuku pergi berkelana dengan teman temannya? Mengapa kau bohong, kalau sebenarnya aku itu anak pungut? Mengapa? Mengapa yah??" tangis Lisa tersedu-sedu. Ayahnya yang mendengar itu hanya bisa menahan tangis, dan lama-lama rasa yang ia bendung itu tiba-tiba meluap sehingga ia tidak bisa menahannya lagi. Sambil memeluk erat Lisa, ia hanya mengatakan "Karena kamulah satu satunya anakku, sa! Hanya kamu yang aku miliki di dunia ini! Semua keluargaku sudah meninggalkanku karena aku ceroboh! Menemukanmu itu membuatku merenung kalau aku harus berubah! Karena itu aku sayang kamu, nak!! Walaupun kau bukan keturunanku tapi aku bangga dan bahagia mempunyai malaikat kecil sepertimu!" Seketika hati Lisa seperti tersentuh, tersentuh perkataan ayahnya yang ternyata sangat mencintai anaknya.
"Sudah yah. Aku mengerti sekarang... Terima kasih telah menjadi orang tua yang hebat untukku, terima kasih telah jujur kepadaku..." seketika setelah itu ia langsung rubuh ke ranjang ayahnya, mungkin ia lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Ayahnya kaget, namun tak lama ia tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa yang anaknya alami hari ini. Dengan menahan tangis, ia membiarkan Lisa tidur di ranjangnya yang sudah usang, dan memilih untuk tidur di sofa yang berada di ruang depan.
 Keesokan harinya, datang pasukan dari kerajaan Grimoire, kerajaan yang didominasi oleh bangsa elven, sejenis manusia tapi dengan daya sihir yang tinggi. Tak banyak untuk ukuran pasukan, sepertinya hanya 10 orang saja, itu pun juga tidak menggunakan baju zirah yang berat. Hanya menutupi bagian bagian penting saja. Dan di tengah tengah pasukan tersebut terlihat seorang nenek tua seperti penyihir, tetapi kalau dilihat dari mukanya bisa terlihat kalau ia wanita tua yang tenang dan tidak bermaksud jahat.
"Selamat siang, penduduk yang terhormat. Kami dari kerajaan Grimoire, datang untuk menginformasikan. Bahwa, dunia ini sedang dalam marabahaya yang sangat besar. Kebangkitan Iblis Besar di barat bumi tengah mengancam kehidupan kita! Namun, setelah diramalkan oleh Penyihir Besar Leira. Ia mengatakan kalau hanya seorang keturunan suci yang bisa mengalahkan Iblis Besar tersebut! Dan keturunan terakhirnya terdapat di desa ini!" teriak salah satu prajurit yang mengawali sekumpulan pasukan mereka. Warga desa pun langsung heboh, menanyakan "Siapakah keturunan suci itu?" "Apakah benar bumi dalam kiamat?" dan lain lain.
Bingung dengan apa yang terjadi di tengah desa. Lisa yang tengah mengelilingi desa spontan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia menerobos barisan orang yang sedang melihat apakah yang sedang terjadi. Saat sudah sampai di barisan terdepan. Ia melihat seorang nenek-nenek yang aneh, dengan muka yang sangat keriput. Dengan tidak sengaja Lisa tidak bisa menahan tawanya. "Ahahaha, aku tidak pernah liat nenek nenek seunik itu! Ahahahah! Tapi, aku harus menjaga sikapku, ta-tapi melihat mu-mukanya... Ahahahaha!!" Lisa terus tertawa kecil. Tidak sadar kalau orang orang di depannya langsung memperhatikannya.
"Hei, kau! Bocah! Apa yang kau tertawakan? Ini serius! Tidakkah kau tahu kalau orang yang di depan itu orang yang suci? Ia adalah pahlawan bumi, asal kamu tahu!" dengan sigap salah satu pasukan yang berbadan tinggi langsung mendekati Lisa dan menarik baju Lisa. Para penghuni desa langsung kaget. Tak menyangka bangsa Elven akan melakukan hal seperti itu. "So! Lepaskan dia! Dialah orang yang kita cari!!" Seketika Lisa dan semua orang yang berkumpul tertegun. Lisa tidak tahu apa yang terjadi disini. Sementara, Uso, prajurit yang menarik baju Lisa tadi. Langsung menurunkan Lisa, membungkuk dan meminta maaf.
 "A-a-apa yang terjadi disini? Kenapa, a-aku yang kamu tunjuk?" tanya Lisa dengan takut. "Kau, Lisa. Kau adalah keturunan terakhir dari Priestess of the Moon yang sudah berakhir 15 tahun yang lalu! Tapi sepertinya kau berhasil selamat dari serangan Orc yang mengenaskan. Inilah saatnya untuk pergi ke kastil kami di Utara. Takdir mu sudah menunggu..." kata nenek tua tersebut.
"Tidak! Tidak akan! Aku adalah diriku sendiri!! Aku melakukan apa yang aku mau!! Aku bukan seorang yang senang perang! Aku hanya mau hidup damai di dunia ini!! Hentikan ini!" dengan cepat setelah mengungkapkan perasaannya terhadap apa yang ia dengar. Lisa segera kabur dari sekerumunan pasukan dan penduduk desa. Beberapa pasukan ingin mengejarnya, tetapi sang nenek langsung menghentikannya. "Biarkan ia, ia butuh waktu untuk berpikir. Kita kembali lagi ke tempat istirahat kita dan kembali lagi esok. Karena aku yakin, ia pasti ingin merubah nasib dunia ini. Sama seperti nenek moyangnya, yang telah menyegel Iblis Besar Kal'gur beratus tahun yang lalu..."
Melihat Lisa berlari menjauhi kerumunan penduduk yang ramai. Kazu memutuskan untuk mengikutinya.

Thursday, January 10, 2013

The Last Priestess of the Moon - Chapter 1


Chapter 1
The Fragment of Memories
15 tahun kemudian, anak yang ditinggalkan itu berkembang menjadi gadis yang sangat sehat dan cantik. Ayahnya memberi nama gadis ini bernama Lisa. Tubuhnya yang sedang dan kulit yang mulus menjadikan ia dikenal oleh 1 desa. Selain orangnya yang cantik, ia dikenal juga dengan orang yang sangat, baik hati. Tak ada seorang pun  yang benci dengan dia. Ayahnya satu satunya pembuat pedang di desa itu. Kualitas pedangnya sudah dikenal dimanapun. Menjadi seorang ayah tanpa istri yang menemaninya yang mengasuh Lisa cukup membuat hidupnya bahagia.
Hari ini, merupakan ulang tahun Lisa yang ke 16. Walapun begitu ia tidak mau merayakannya dengan teman temannya atau dengan meriah. Sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya sendiri untuk tidak merayakan ulang tahunnya karena ia yakin tiap tahun yang ia lalui akan mengurangi umurnya sendiri. Jadi ia memutuskan untuk merenung dirinya di tepi sebuah tebing.  Ia memandang betapa indahnya dunia ini.
Beberapa menit melamun, ia dikagetkan dengan seorang lelaki yang menyapanya. Rupanya itu Kazu, teman Lisa sejak berumur 6 tahun. Mereka kenal satu sama lain karena kejadian konyol. Mungkin karena itu yang membuat mereka akrab sampai umur 16 tahun ini.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kazu.
“Hmm, tak ada.  Hanya merenungi hari ulang tahun ku.” Jawab Lisa.
“Kau ulang tahun hari ini? Wah aku tidak tahu, selamat ulang tahun ya!” jawab Kazu dengan senyuman kecil. Lisa hanya tertawa kecil melihat temannya memberikan ucapan selamat kepadanya.

“Ingatkah kau saat kita bertemu? Di pasar? “ tanya Kazu. “Ahahaha, iyaa aku ingat kejadian itu, benar-benar memalukan diriku sampai aku tidak mau mengingatnya lagi, hahahaha” jawab Lisa sambil tertawa.
“Bagaimana dengan kejadian di kedai roti milik ibu Dorothy? Saat kau memberikan takaran yang berlebihan ternyata oven yang digunakan penuh oleh roti yang gagal?”
“Ahahahaha, itu merupakan pertama kalinya aku memanggang roti, dan aku tak menyangka kalau aku tidak boleh memberikan takaran yang berlebihan! Akhirnya kita harus membersihkan oven itu selama sehari penuh” jawab Lisa. Mereka akhirnya tertawa bersama, dengan mengenang masa lalu mereka yang tidak dapat  mereka lupakan.
“Tapi, mengapa kau diam disini, tidakkah kau merayakannya di rumah bersama Ibu dan Bapakmu?”
Seketika, hati Lisa seperti berhenti mendadak. Degupan jantung yang makin kencang. Ia terdiam untuk sesaat.
“Lisa, kau tidak apa-apa?” Kazu kaget dengan omongan yang lontarkan tadi. “Apakah yang ku katakan tadi salah? Oh Lisa, maafkan aku! Aku tidak tahu apa yang terjadi…” ungkap Kazu dengan nada bersalah
“Tidak apa-apa, Ka.  Hanya saja, aku hanya ingin menyendiri…” jawab Lisa pelan. Kazu hanya bisa menahan nafasnya, sambil bersembari pergi, ia berbisik sebentar ke Lisa “Sa, maafkan aku…” lalu ia pergi berlalu, meninggalkan Lisa sendiri di tebing tersebut. Lisa hanya bisa menahan tangis, ada apa dengan ibunya? Mengapa ia meninggalkan ayahnya dan dirinya sendiri? Ia hanyut di pemikiran ia yang sangat rumit.
                                    “……. Criiiikkkkkk…… criiiiiiiiiikkk….”

Seketika kepala Lisa dipenuhi dengan bunyi yang sangat nyaring,  pandangannya kabur seketika menjadi putih, suara nyaring itu tiba-tiba berubah menjadi… bunyi baju zirah yang berat berjalan kesana kemari.  Kejadian yang berlangsung selama 10 detik itu akhirnya membuat Lisa tersadar. Namun dalam keadaan pusing ia berjalan untuk bersandar di satu satunya pohon di tebing itu. Sambil memandang bulan yang bersinar sangat cerah. Ia hanya memikirkan satu saja dalam dirinya: “Siapakah aku? Dimanakah ibuku?”
Karena kejadian aneh itu ia akhirnya memutuskan untuk pulang, berencana untuk menanyakan kepada ayahnya dan bertanya tentang kejadian yang ia alami hari ini. Saat sampai rumah, ia segera menceritakan semua kejadian yang ia alami. Sang ayah menghela nafas panjang, diam sejenak, dan berkata…
“Nak, harus ada yang ayah katakan kepadamu…”

Tuesday, January 8, 2013

The Last Priestess of the Moon - Prologue

\\** Sebelum membaca prologue, penulis memberi tahu kalau ada kesamaan nama, judul, dll. Itu semua hanya kebetulan belaka, dan betul. Penulis mendapat inspirasi judul light novel ini dari seorang Hero di DotA, tapi di jalan cerita ini TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan DotA, penulis ucapkan terimakasih :) **\\
 - PROLOGUE –
Sinar rembulan di malam hari menerangi kastil Prein, semua penghuni kastil sudah tertidur, baik raja, ratu, maupun sang pangeran dan semua penghuni kastil. Kecuali, seorang Priestess dan anaknya. Yang sedang berada di ruangan khusus untuk mereka beribadah. Anaknya, Alice I. Nightshade, yang lahir 1 tahun yang lalu, berada di pelukan ibunya, menangis meminta makan kepada sang ibu. Sang Ibu, yang selesai berdoa, segera menggendong anaknya tersebut, memberi makan dengan sebuah bubur gandum yang ia buat beberapa jam yang lalu untuk anaknya tersebut.
Kastil Prein, konon di kenal tidak bisa ditembus dan diserang oleh kekuatan pasukan manapun. Karena terkenal dengan kekuatan seorang Priestess di kastil itu. Priestess of the Moon diyakini sangat kuat dengan kekuatannya, dikarenakan untuk menjadi seorang Priestess of the Moon, dibutuhkan seorang yang sangat bersih hatinya, dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi orang disekitarnya. Priestess sendiri dipilih oleh Bulan, jadi tidak sembarang orang yang bisa menjadi seorang Priestess.
Seorang Priestess of the Moon di kastil ini, yang bernama Kaaya, mempunyai kekuatan menerawang bahaya disekitarnya, melewati bulan yang bercahaya di malam hari. Pada awalnya, ia tidak merasakan adanya marabahaya di sekitar kastil tersebut. Namun, saat ingin menyuapi anaknya, tiba-tiba ia menjatuhkan piring tersebut, melihat bulan ditutup oleh awan yang sangat, amat hitam. Sampai tidak satupun cahaya bulan menerangi bagian bumi di dalamnya. Ia melihat keluar, 1000, bukan, 100.000 pasukan Orc datang mengepung kastil tersebut, di tengah-tengah orc tersebut terdapat tandu yang sangat besar, dan saat di buka, terlihat... Seorang Shaman dari Orc, ia teriak "Mulai hari ini, Bulan akan hancur! Kebangkitan Kal'gur akan membawa petaka di dunia ini! Saatnya 'Zaman Kegelapan Dunia' dimulai!"

Priestess sangat kaget, dan ketakutan. Ia sangat bingung kenapa tidak dapat mendeteksi keberadaan para Orc? Dengan langkah bergetar, ia mulai berlari membangunkan penjaga kastil, dan segera membunyikan lonceng darurat, yang menandakan kastil dalam keadaan bahaya. Namun, sayang, saat dibunyikan, para Orc telah menembus pertahanan kastil. Dengan kekuatannya, Kaaya bisa membuat sebuah pelindung di sekitar kastil, namun karena ia sudah menggunakan banyak kekuatannya pada hari ini, jadi pelindung itu hanya bertahan sesaat, dan akhirnya hancur dihantam ratusan ribuan orc yang menyerbu kastil tersebut. Para Orc pun berhasil memasuki kastil yang tak pernah tersentuhi oleh penjajah sekalipun.
"Crek, crek, crek, crek..."
Bunyi baju zirah berat yang dipakai para Orc memenuhi kastil, 1 per 1 para penghuni kastil yang tertidur lelap dengan kaget terbangun, dan menemukan Orc sudah mengepung mereka, tanpa basa basi, pedang menanyayat tubuh mereka, tombak menusuk mereka, anak panah menembus daging mereka, darah dimana-mana. Raja, yang pada awalnya dapat mengendalikan situasi, tiba tiba menjadi sangat lemah, dikarenakan para Orc menggunakan sejenis racun di ujung pisau mereka, sehingga di tengah-tengah kerajaan sudah banyak sekali jasat manusia dan darah bertebaran. Beruntung sang Priestess dapat melarikan diri dari pembunuhan genosida tersebut, namun, tidak disangka terdapat satu pasukan Orc, mendapatkan melihat ia mencoba melarikan diri. Ditariknya anak panah, dilepaskan, tepat mengenai kaki sang priestess. Tidak peduli dengan keadaan badannya yang terkena luka serius, ia meneruskan niatnya untuk melarikan diri, sampai para Orc tidak bisa melacak kemana lagi mereka pergi.
Dengan pincang, ia merasakan kalau ia tidak akan kuat lagi melanjutkan perjalanan, sampai ia melihat kembali ke arah kastil, terdapat cahaya yang sangat terang, namun penuh dengan aura kebencian dan kekacauan. Ia dapat merasakan bahwa dunia sedang dalam bahaya, terlihat dari cara ia memandang bulan, yang sudah terang seperti biasa.
Beberapa menit terus berlalu. Ia terus berjalan, dan merasa sangat sesak untuk bernafas. Beruntung ia menemukan sebuah rumah kecil, kalau dilihat dari luar terdapat tempat untuk mengasah besi. Dapat dilihat kalau ternyata ini rumah seorang pandai besi. Tanpa pikir panjang ia meletakkan anak satu-satunya di depan pintu rumah tersebut. Sebelum ia meninggalkannya, terlebih dahulu ia berdoa, agar anaknya selalu diberi keselamatan, dan kelak akan menjadi orang yang berguna. Setelah berdoa ia langsung pergi, entah kemana, sangat jauh dari rumah tersebut, dan tidak pernah terlihat kembali.

Tuesday, January 1, 2013

Happy New Year! - 2013 First Post

Heiii semua yang ada disini, APAKABAAAAAAAAAAAAR~~~




Sebelumnya, Miku said "HAPPY NEW YEAR" to everyone! :D




Bertemu lagi disini, Farhan a.k.a splitzster! Dan setelah 2 minggu (atau lebih...) blog ini kosong tanpa post sama sekali, akhirnya pada hari ini gue bisa ngeblog lagi WHOOOOOOOOO~

Ada beberapa alasan gue udah jarang ngeblog beberapa minggu ini:

1. Gue lagi liburan
2. Gue lagi bosen ngetik (==)
3. Gue desperate karena HGUC 1/144 Sazabi Evo gue belom dateng
4. Gue lagi sibuk karena nyiapin prop cosplay gue
5. Dan beberapa hal penting yang elu patut gak usah tau...

Dan gue akan menjelaskan apa yang gue maksut di point 3


POINT 3

Seperti yang gue bilang kalau gue BENER BENER DESPERATE dengan kiriman gue, yaitu HGUC 1/144 Sazabi Evo yang belom dateng dateng...

YEAA! THIS FACKING DEMN KIT, MADE MY HOLIDAY A BIT RUINED!
Kalo gak salah gue mesen ini hari Jumat, dan gue kaget karena pengiriman oleh P*hala Express MOLOR selama 1 minggu dan barang baru dateng HARI MINGGU, MINGGU DEPANNYA LAGI! Well waktu dateng, at least gue sangat bahagia karena 2 (ya, dua, gue mesen 2, 1 lagi gue investasiin dalam bentuk uang) unit paket Sazabi gue udah dateng, oh ya entah kenapa gue sekarang jadi suka Mono Eye, terutama mono eyenya si Char :\


Okeh langsung gue ke jepretan nih kit ya, oh, dan maaf kalo decalnya sedikit, gue gak terlalu demen water decal soalnya :|

Untuk kitnya, gue melakukan sedikit repaint, sangat sedikit, yaitu di bagian wind tunnel depan dan saluran pipa di bagian pinggul yang tadinya berwarna kuning jelek, jadi silver, gue juga ngasih sedikit decal ke bagian front skirt, shield, dan right shoulder (karena gue gak terlalu suka dan ribet dengan water decal, yes, water decal)


Perbandingan dengan HGUC 1/144 RX 78 2 Gundam a.k.a Mbah Gundam :p


Dan ini perbandingannya dengan MG 1/100 Astray Blue Frame 2nd Revise :D

Banyak orang bingung, gak nyangka karena Sazabi itu, walopun keitung 1/144, bisa segede MG, kata temen gue sih, di animenya sendiri emang bongsor ama tinggi, beda sama si mbah sekitar 6meter-an :D


DAAAAAAN, terakhir yang gue kagetkan adalah, ternyata MODEL GOGO itu adalah nama lain dari GAOGAO a.k.a TT HONGLI, AHAHAHAHAHA, gue kira karena molding yang sempurna dan gue gak punya masalah di bagian snapfit, gue kira ini pure bener2 merek lain, ternyata oh ternyataaaa~